Sunday, November 20, 2011

Wafa :: Takut

Petang itu, Ummi kedatangan tamu istimewa. Wafa sedang tertidur lelap, adek Husna nemenin Ummi di depan.


Sekitar jam 6.30, Wafa bangun dan menangis. Ummi samperin, gendong, ajak dia ke depan.
Dari sejak bangun sampai habis maghrib, Wafa terus rewel. Nangis dan gak bisa diajak komunikasi.

Baru setelah tamu istimewa pulang, Wafa gak rewel lagi.

Beberapa menit kemudian, Ummi ajak ngobrol Wafa sambil di suapin.

"Ceu, kenapa tadi nangis dan rewel?"
"Tadi Wafa tidur di kamar, sendiri, gelap dan pintu ditutup. Ceuceu kan takut." si mungil menjelaskan

Ummi takjub!!!
Subhanallah, di usianya yang ke-3 tahun, ternyata ceuceu sudah bisa menerangkan keadaan hatinya. Menjelaskan penyebab dia menangis...
ALhamdulillah ..

Ummi akhirnya tersenyum. Senyum karena bahagia .. hehehe. Bukan bahagia karena Wafa nangis ya, tapi karena ceu Wafa semakin pandai.

Lalu Ummi menjawab, "Ooo, begitu. Maafkan Ummi ya Ceu. Tadi Ummi tutup pintunya agar Wafa tidak tergangu tidurnya. Tapi ternyata Wafa takut ya?" tanya Ummi
"Ya sudah, nanti kalo tidur Ummi nyalakan lampunya ya sayang."
Wafa pun mengangguk, senang
:)

ALhamdulillah

Tuesday, October 18, 2011

Wafa :: Toilet Training

Pfuiiih...

Perjuangan toilet training Wafa ini menguras waktu, tenaga dan emosi..
Cieeh.. gayaa ...

Seperti sudah dituliskan dalam beberapa jurnal sebelumnya, Wafa sudah pandai pup di kamar mandi sebelum usia dua tahun. Namun untuk bagian pipisnya ini yang makan waktuuuu lama.
Alhamdulillah, di usianya yang ke-3 tahun, Wafa lulus toilet training-nya. Bahkan pas tidur pun tidak ngompol

Bagaimana ceritanya?

Heemmh.. nampaknya karakter anak mempengaruhi ya?

Kalo melihat jejak perkembangan Wafa, dia memang anak yang agak lamaaa dalam meraih sesuatu. Bukan karena gak bisa, tapi belum 'mau'.

Wafa baru mau guling umur 5 bulan. Tapi usia 6 bulan langsung bisa merangkak dan duduk tanpa bantuan.

Wafa baru mau jalan umur 1 tahun 2 bulan. Tapi gak pake jalan selangkah selangkah. Gak pake cerita jatuh bangun, kejedut dll. Wafa langsung berjalan dengan lancar. Nampaknya Wafa sudah mampu berjalan sejak lama, namun dia takut. Dan keberanian itu baru ada karena terpaksa. Disaat dia ingin meraih sesuatu dan tak ada yang dapat membantunya, maka Wafa pun berjalan.
Ketika masa 'training', Wafa mau ditatih jalan, tapi setiap kali dilepas pasti langsung duduk. Meskipun kami berdiri dekat Wafa untuk membantunya, namun dia memilih duduk kembali dibandingkan melangkah maju

Nah pas toilet training pun begitu. Maju mundur kemampuan Wafa.
Ketika bicaranya masih belum terlalu lancar, Wafa sering diajak ke WC. Namun jadwalnya tidak pernah tetap. Ketika diajak ke WC satu jam sekali, kadang pipis kadang nggak. Sering juga dalam 5 menit setelah diajak ke WC dia pipis

Ketika sudah pandai bicara, dia juga moody. Kadang mau ngomong kalo pengen pipis kadang nggak. Apalagi kalau asyik main, khusyu nonton tipi, atau sedang bertamu. Sering dia nggak mau bilang kalo kebelet pipis.

Si Ummi cari ide, putar otak. Eh otak gak bisa diputar ya?
Hmmh harus ada sesuatu yang memacu Wafa agar selalu bilang kalo pengen pipis.

Naaah, Ting!!! Ada Ide!!

Suatu malam ketika hendak silaturahim ke rumah Uwa-nya, si Ummi bilang gini ke Wafa,
"Ceu kalo mau pipis bilang ya! Kalo ceuceu gak ngompol (bahasa kami untuk pipis sembarangan), nanti besok Ummi belikan ice cream."
Gadis mungil itupun mengangguk tanda setuju.

Alhamdulillah semalaman itu gak ngompol. Ice cream pun berhasil didapatnya.
Untuk tidur malam pun, saya bilang, "Wafa kalo mau pipis, bangun ya!"
Dan setiap dia berhasil bangun, kami berikan pujian berlimpah

Setelah itu, masih ada bocor dua kali. Salah satunya (mungkin) karena makan jambu air .
Dan malam hari juga pernah ngompol sekali. Selain itu, Wafa selalu bangun kalo mau pipis. Kalau sekarang malah baru pipis pas bangun di pagi hari.

Setiap kali bocor itu, kami langsung mengingatkan Wafa, kalo selama ini dia sudah pandai, kalo pengen pipis selalu bilang. Kalau lagi tidur, Wafa juga pandai bangun.

Alhamdulillah setelah itu Wafa tidak pernah ngompol lagi, dan bilang setiap kali mau pipis.

Semoga di sekolah pun nanti mau bilang ya shalihah :)
Aamiin

*perjuangaaaaaaan ^^

Tuesday, October 11, 2011

menemanimu

selalu ingin menemanimu mencapai impianmu,

namun seringkali engkaulah yang menemaniku mencapai inginku,

aku harus terus belajar dan berusaha,
menjadi seperti Khadijah,

semoga suatu saat nanti ...

aamiin


Wafa :: Orang Indonesia

Dari sejak masih dalam kandungan, Wafa sudah saya ajarkan berbicara bahasa Sunda. Alasannya mengenalkan budaya, memberikan rasa, membentuk pribadinya.


Setelah pandai berbicara, Wafa alhamdulillah tidak mengalami kesulitan berbicara. Dia mampu berbicara Sunda dan Indonesia, sesukanya, sebisanya. Saya pun tidak terlalu mempermasalahkan ketika dia menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia, meskipun saya bertanya dalam bahasa sunda.

Gaya bicara campuran ini makin bertambah serunya ketika Wafa mulai masuk TasKa, atau Play Group. Karena Wafa mulai mengenal bahasa Melayu. Jadilah dia berbicara gado-gado di rumah. Kadang Sunda, Indonesia, dan Melayu.

Namun sejak beberapa minggu ini, saya mulai mengajarkan dia untuk menjawab pertanyaan saya dengan bahasa sunda. Tujuannya agar dia berani dan mampu berkata dalam bahasa Sunda, bukan hanya mengerti saja. Selain itu juga agar mampu berbahasa Indonesia yang baik, tidak tercampur -campur.

Cara saya mengajarkan Wafa untuk menjawab bahasa Sunda adalah dengan membetulkan kalimat Wafa ketika dia berbicara dengan saya. Dan juga mengenalkan bahwa kalo sama Ummi bicaranya dengan bahasa Sunda, Ummi orang Sunda

Karena saya menyampaikan tentang orang Sunda ini, Wafa pun bertanya pada Abahnya,
"Abah orang Sunda?"
"Bukan, Abah orang Jawa," jawab Abahnya.


Naah, tadi ketika berbincang-bincang dengan Wafa sebelum tidur, mulut kecilnya berucap,
"Ummi orang Jawa,"ujarnya dengan kalimat berita.
"Bukan, Ummi orang Sunda," ucap Ummi tanpa maksud membedakan.
Kemudian Wafa menjawab dengan polosnya, "Wafa orang Indonesia."
Good!

Karena Wafa 'blasteran' Jawa dan Sunda, maka Wafa orang Indonesia ya Nak .. :)

hehehe alhamdulillah, putri Ummi dan Abah.. pandaaaiii ...:)


Perbedaan suku ini bukan masalah besar..
Tekad Ummi mengajarkan bahasa sunda pun agar Wafa mampu mewarisi nilai yang terkandung di dalamnya. Ada sebuah karakter yang menurut Ummi terbentuk lewat bahasa. Alasan yang lainnya agar bahasa Sunda ini lestari ..

Kelak ketika kita pulang ke tanah jawa, kaupun harus pandai berbahasa Jawa. MAmpu berbicara dengan Mbah dan keluarga di tanah kelahiran Abahmu dengan bahasa Jawa



Semoga senantiasa diberikan kecerdasan ya shalihah...
memberi maslahat untuk ummat...

aamiin.

Wednesday, October 05, 2011

W:: Tanggung Jawab

Ketika Husna lahir, saya sering mendapatkan pertanyaan,

"Bagaimana, Ceu Wafa cemburu gak?"

Dengan keyakinan kuat saya berkata, "Alhamdulillah tidak cemburu, Wafa baik sama adeknya. Cuma kadang karena gerak motorik halusnya belum sempurna, jadi sering menunjukan rasa sayangnya ke Husna dengan cara yang tidak biasa."

Tentu saja, jawaban itu sebenarnya untuk membentuk paradigma positif dari diri saya terhadap si sulung Wafa. Juga sebuah do'a. Bukankah ucapan ibu itu do'a?

Namun bertambah hari ternyata kesabaran saya juga teruji. Wafa juga menampakan kecemburuannya. Terkadang dia iseng sama adeknya. Bahkan sering melakukan sesuatu yang sepertinya ingin menguji kesabaran Umminya

Daaan...
Saya bukanlah orang yang sempurna. Seringkali kesabaran saya berada pada titik terburuk. Meledak Marah!!!

Alhamdulillah, Alloh mendidik kami dengan skenarionya.

Tibalah saat dimana kami ditinggal bertiga, Ummi, Wafa dan Husna. Abahnya Wafa harus pulang ke Indonesia untuk suatu urusan.

Hari-hari pertama banyak dilewati dengan tangisan dan emosi. Apalagi saya waktu itu diuji dengan flu beraaatttzzzz . Jadilah keadaan rumah kacau balau.

Alhamdulillah, ketika akhirnya flunya membaik, emosi pun ikut turun, dan otak pun ikut berpikir dengan jernih.

Selama ini, Wafa senang sekali jika diminta membantu saya menyiapkan pakaian adiknya, menyiapkan disposable diapers adeknya. Bahkan dengan senang hati membawakan baju dari kamar setrikaan. Mengambilkan minum, atau bahkan mencarikan hape saya yang berbunyi.

"Tiing!" sebuah ide muncul.

Sebagai seorang Kakak, Wafa senang diberi kepercayaan. Apalagi seringkali Wafa mampu mengajak adeknya bermain, bahkan sampai adeknya ikutan tertawa terbahak-bahak.

Baiklah, dengan menguatkan kepercayaan, dan menitipkan jiwa kecil itu pada Rabbnya, Wafa saya beri tugas untuk menjaga adiknya.

Alhamdulillah, dengan kalimat, "Wafa jaga adek ya!" Wafa jadi lebih bertanggung jawab pada adeknya. Menjaganya, mengajaknya main sehingga lupa untuk berbuat iseng. Keuntungan lainnya, saya jadi bisa masak, dan membereskan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi tentu saja, mereka tidak boleh ditinggal terlalu lama. Walau bagaimanapun Wafa masih kecil. Banyak hal yang berbahaya yang dia lakukan, dan tidak disadarinya. Jadi tetep saya harus bolak-balik ngecek keadaan.

Apakah keisengan Wafa hilang, cemburunya lenyap?
Oo tentu tidak. Wafa masih sering iseng, kerap menguji coba kesabaran Umminya, dan tak lupa cemburunya juga kadang muncul. Tapi tentu saja intensitasnya berkurang. Selain itu, dengan pemberian tanggung jawab ini, Wafa belajar untuk menjaga adeknya.


shalihah.. rukun-rukun selalu ya sayang ..:)

LuV

Saturday, October 01, 2011

WH :: Ketika Ummi terkapar

kemaren sore, si Ummi terkapar di kasur karena diserang flu yang teramat berat


Ceuceu shalihah dengan lembutnya menyelimuti Ummi. Tubuh kecilnya bergerak kesana kemari merapikan selimut yang berukuran lumayan besar itu agar sempurna menutupi tubuh Ummi yang terbaring lemah. Setelah itu dia memijiti badan Ummi. Meskipun pijitannya terasa sangat pelan, namun ketulusan yang terpancar dari hatinya mampu meringankan rasa sakit di badan Ummi.
"Makasih Ceuceu shalihah."
Wafa tak membalas ucapan terimakasih Ummi. Dia seperti tak mendengarnya, malah sibuk loncat loncat di kasur Abah.
Tiba-tiba Wafa terjatuh di kasur karena menginjak guling yang tergeletak di tengah-tengahnya.
" Ha.. ha.. ha, Wafa jatuh Ummi," suara mungil itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang terjatuh ketika melompat-lompat. Si Ummi yang merasa itu bukan kejadian lucu hanya diam saja. Namun Wafa tetap tergelak-gelak.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi gelak tawa yang lebih mungil. Ternyata baby Husna (5m) ikutan tertawa melihat dan mendengar tawa Kakak-nya. Jadilah mereka berdua tertawa tergelak-gelak. Sambung menyambung. Wafa yang makin tergelak melihat adiknya tertawa, begitupun sebaliknya Husna.
"Ummi, ade tertawa.. ha ... ha...ha," ujar Wafa sambil menunjuk adiknya. Begitupun Husna makin keras tertawanya.
Ummi yang tadinya menganggap kejadian itu tidak lucu, akhirnya ikut tertawa melihat dua buah hatinya tertawa dengan renyah.

Alhamdulillah, meskipun kepala terasa berat, Alloh swt senaniasa menyelipkan hiburan dalam hidup kita.

Ceuceu Wafa, adek Husna... akur selalu ya Nak ...
Jadilah cahaya mata Ummi dan Abah

WH :: Ketika Ummi terkapar

kemaren sore, si Ummi terkapar di kasur karena diserang flu yang teramat berat


Ceuceu shalihah dengan lembutnya menyelimuti Ummi. Tubuh kecilnya bergerak kesana kemari merapikan selimut yang berukuran lumayan besar itu agar sempurna menutupi tubuh Ummi yang terbaring lemah. Setelah itu dia memijiti badan Ummi. Meskipun pijitannya terasa sangat pelan, namun ketulusan yang terpancar dari hatinya mampu meringankan rasa sakit di badan Ummi.
"Makasih Ceuceu shalihah."
Wafa tak membalas ucapan terimakasih Ummi. Dia seperti tak mendengarnya, malah sibuk loncat loncat di kasur Abah.
Tiba-tiba Wafa terjatuh di kasur karena menginjak guling yang tergeletak di tengah-tengahnya.
" Ha.. ha.. ha, Wafa jatuh Ummi," suara mungil itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang terjatuh ketika melompat-lompat. Si Ummi yang merasa itu bukan kejadian lucu hanya diam saja. Namun Wafa tetap tergelak-gelak.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi gelak tawa yang lebih mungil. Ternyata baby Husna (5m) ikutan tertawa melihat dan mendengar tawa Kakak-nya. Jadilah mereka berdua tertawa tergelak-gelak. Sambung menyambung. Wafa yang makin tergelak melihat adiknya tertawa, begitupun sebaliknya Husna.
"Ummi, ade tertawa.. ha ... ha...ha," ujar Wafa sambil menunjuk adiknya. Begitupun Husna makin keras tertawanya.
Ummi yang tadinya menganggap kejadian itu tidak lucu, akhirnya ikut tertawa melihat dua buah hatinya tertawa dengan renyah.

Alhamdulillah, meskipun kepala terasa berat, Alloh swt senaniasa menyelipkan hiburan dalam hidup kita.

Ceuceu Wafa, adek Husna... akur selalu ya Nak ...
Jadilah cahaya mata Ummi dan Abah

WH :: Ketika Ummi terkapar

kemaren sore, si Ummi terkapar di kasur karena diserang flu yang teramat berat


Ceuceu shalihah dengan lembutnya menyelimuti Ummi. Tubuh kecilnya bergerak kesana kemari merapikan selimut yang berukuran lumayan besar itu agar sempurna menutupi tubuh Ummi yang terbaring lemah. Setelah itu dia memijiti badan Ummi. Meskipun pijitannya terasa sangat pelan, namun ketulusan yang terpancar dari hatinya mampu meringankan rasa sakit di badan Ummi.
"Makasih Ceuceu shalihah."
Wafa tak membalas ucapan terimakasih Ummi. Dia seperti tak mendengarnya, malah sibuk loncat loncat di kasur Abah.
Tiba-tiba Wafa terjatuh di kasur karena menginjak guling yang tergeletak di tengah-tengahnya.
" Ha.. ha.. ha, Wafa jatuh Ummi," suara mungil itu tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang terjatuh ketika melompat-lompat. Si Ummi yang merasa itu bukan kejadian lucu hanya diam saja. Namun Wafa tetap tergelak-gelak.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, terdengar bunyi gelak tawa yang lebih mungil. Ternyata baby Husna (5m) ikutan tertawa melihat dan mendengar tawa Kakak-nya. Jadilah mereka berdua tertawa tergelak-gelak. Sambung menyambung. Wafa yang makin tergelak melihat adiknya tertawa, begitupun sebaliknya Husna.
"Ummi, ade tertawa.. ha ... ha...ha," ujar Wafa sambil menunjuk adiknya. Begitupun Husna makin keras tertawanya.
Ummi yang tadinya menganggap kejadian itu tidak lucu, akhirnya ikut tertawa melihat dua buah hatinya tertawa dengan renyah.

Alhamdulillah, meskipun kepala terasa berat, Alloh swt senaniasa menyelipkan hiburan dalam hidup kita.

Ceuceu Wafa, adek Husna... akur selalu ya Nak ...
Jadilah cahaya mata Ummi dan Abah

Saturday, July 30, 2011

ramadhan menjelang

ramdhan dalam hitungan jam..
menanti saat yang luar biasa..
dihiasi keberkahan
dipenuhi pahala jika mau beramal...

teringat ramadhan ramdhan sebelumnya yang berlalu bagai hembusan angin..
ringan... tanpa ibadah yang maksimal

semoga ramadhan kali ini mampu menggapai seribu bulan
mengkhatamkan warisan dari yang tercinta baginda Rasulullah saw
berdzikir pagi dan petang
serta tak lupa menyiapkan santapan sehat untuk yang tercinta

oia..
putriku yang shalihah, Asiah Wafa Shahidah...
semoga Ramadhan kali ini berkesan untukmu ya Nak..
Tahun depan boleh belajar puasa sungguh sungguh ..:)

untuk semua sahabat...
Mohon Maaf Lahir Bathin..
Semoga keberkahan Ramadhan melingkupi kita
aamiin

LuV

Thursday, June 30, 2011

bila tiba waktunya

bila saatnya kan berakhir
meninggalkan kenangan yang manis

sebelum masanya tiba
kususuri jalannya
kutatap satu persatu indahnya
karena ku pasti akan merinduinya

seperti tak ingin pergi
seperti tak ingin menjauh
bahkan merasa takut jika harus pergi dengan cepat

tapi semuanya pasti akan berakhir
tak ada yang abadi
jalan di depan insyaAlloh akan indah
selama Dia ada dalam hati kita

Friday, May 20, 2011

Ayesha Husna Latifa


Assalamu'alaykum wr wbt..
Apa kabar semuanyaa...
Lama gak posting, banyakan nonton di FB..
Hmm sekarang masih pemanasan juga nulisnya..
Mo ngenalin adeknya Wafa.. namanya Ayesha Husna Latifa..
Alhamdulillah lahir 30 April 2011 jam 10.21 di Klinik perdana, Taman U johor Malaysia..
Mohon doanya yaa...
:)





Friday, February 25, 2011

[FL] Wafa :: Masak semur endog (Telur)

Behubung Wafa sakit, si Ummi riweuh persiapan VIVA alias sidang, jadi seminggu ini belum sempat ke pasar lagi. Bahan makanan di peti ais pun ludesss..

Siang menjelang, Ummi dan Wafa berangkat ke Azah membeli telur. Mo digoreng, Wafa masih batuk, di rebus, Wafa bosen kali yaa? Akhirnya Ummi memutuskan membuat semur telur alias endog.

Biar Wafa anteng, si Ummi udah berniat melibatkan Wafa dalam mengupas telur rebus. Alhamdulillah, Wafa sudah sering mengupas rebusan telur. Tapi oo tapi, ternyata sebelum si telor cukup dingin untuk dikupas Wafa, Wafa sudah pingin bantu Ummi ketika dilihatnya Ummi mengupas bawang. Jadilah Wafa bantuin Ummi mengupas kulit bawang putih, sementara si Ummi menyiapkan bumbu lainnya. Setelah bawang terkupas, 6 butir telur pun diberikan ke Wafa untuk dikupas. Ummi sediakan plastik untuk menampung sampahnya. Alhamdulillah, tugas Wafa berhasil dengan baik. Ada beberapa telor yang kena congkel, tapi tak apa.. yang lain mulus. Wafa main, belajar pleus bantu Ummi.. :)

Ibu .. ibu.. adakah ide masakan lain yang bisa dikerjakan barengan dengan todller?


Thursday, February 10, 2011

Wafa :: 2.5 tahun

alhamdulillah..
tak terasa putri Ummi sudah besar ..

lamaaaaaaaaaa banget Ummi gak nulis perkembangan Wafa shalihah ya Nak?

Wafa sudah pandai apa Nak?
Banyaaaaaaaak, alhamdulillah...

Bisa pake baju, celana dan sendal sendiri. Namun teuteup harus dengan pengawasan, soalnya (kadang) masih kebalik balik. Masih sering ogah juga pake sendiri. Mau sama Ummiiiii.... gitu katanya

Wafa juga sudah bisa makan sendiri, tapi gak lama. Paling beberapa suap, abis itu minta sama Umiiiiiii....

Bisa mengucapkan angka dari 1 sampai 12 dalam bahasa indonesia, 1 sampai (kadang) 5 dalam bahasa inggris. Paling hapal angka 'One' ngikutin CD Numbersnya baby einsten ..

Toilet trainingnya gimana?
Pernah beberapa hari lancar bilang dulu kalo mo pipis
Tapi ketika beberapa hari kemudian hampir full day pake diapers, Wafa justru jadi gak mau pipis (atau gak pengen pipis ya?). Soalnya kadang sampai 6 jam gak pipis2. Harus dipaksa dulu baru pipis...
Khawatirnya dia nahan pipis, karena kadang si Ummi suka bilang "tahan Wafa", kalo Wafa mau pipis ...
Nah setelah itu malah sempat kecolongan dua kali pipis di celana ..
Kemaren malah BAB di diapers ketika di Nursery, dan baru ketauan pas nyampe rumah. Itupun sudah Ummi tanya berkali -kali karena kecium bau gak enak dan diapersnya tampak penuh. Tapi Wafa bilang enggak. Akhirnya selesai makan Wafa bilang eo', dan pas di cek ternyata sudah eo' nya di diapers . Padahal dari usia kurang dari 2T Wafa tidak pernah lagi eo' di diapers, selalu bilang kalo mau eo'. Kenapa ya? Apa karena masih belum kenal sama Teacher nya ya? Tapi kan setelah itu ketemu Ummi, kenapa gak bilang juga ya?
Heemmhhh ....

(Aduuuh maaf ya isi tulisannya agak agak gak enak gini)...

Ibu ibu.. ada yang bisa sharing tentang toilet training ini...?

Oia Wafa juga masuk Taska (Playgroup) dan nursery mulai awal senin ini..
'Terpaksa' karena bi Etri pulang dan si Ummi harus persiapan VIVA (sidang) dan juga (nanti) mungkin harus menyelesaikan koreksian hasil VIVA.
Berat sebenarnya.. sangat berat, meninggalkan Wafa di tempat yang tidak dikenalnya. Idealnya lebih banyak waktu bersama Ummi ya Nak, belajar bersama Ummi, bermain bersama Ummi...
Semoga Wafa faham ya Nak...
InsyaAlloh ada kebaikan di dalamnya...
Doakan pekerjaan Ummi juga cepat beres, nanti kita maen bareng lagi yaa...

Oia.. di program Nursery Wafa dikasi 2 kali makan dan satu kali snack. Tapi tiap pulang, ketika masih di dalam mobil Wafa sudah minta makan. Makannya lahaaaaap banget, trus di rumah makan lagi, Ummi dan Abah makan mau lagi, sampai di STOP sama Abah. Takut perutnya sakit Nduk...
Ummi jadi heran, ini efek dari aktifitas yang banyak kali ya?
Semoga ...

oia, Wafa masih belum dapat buku merah tempat laporan perkembangan Wafa selama di Nursery. Semoga bukunya segera ada ya, jadi proses perkembangan Wafa bisa diketahui secara timbal balik..
Ummi bisa tau apa yang Wafa pelajari di sekolah, dan Ummi juga bisa menuliskan kebiasaan dan kesukaan Wafa. Sehingga Teacher dan Ummi bisa bekerjasama ...

Proses masuk sekolah ini juga proses yang 'mengharu biru' untuk Ummi. Karena Wafa sering menangis ketika ditinggal di sekolah. Sebelum berangkat juga suka ngadat. Tapi aps dijalan cerah ceria, trus pas pulang juga gembira. Kata Teacher nya Wafa nangis sebentar saja.

Abah senantiasa menguatkan Ummi, insyaAlloh Wafa kuat katanya. Wafa seperti Abah, suka takut dengan lingkungan baru. Welleeeeeh Bah, sama saja.. si Ummi juga walopun tampak ceria, nyante dan gak serius, tapi suka ketakutan juga kalo ke tempat asing. Jadi yaa Ummi faham apa yang Wafa rasakan shalihah.

Semoga ini jalan terbaik, dan terbentuk pribadi Wafa yang lebih kuat, lebih mudah bergaul dengan lingkungan, mudah beradaptasi.. dan yang paling utama shalihah. Aamiin

Cerita laiiin?...
Seperti Umminya ketika kecil dahulu, Wafa juga 'pandai' mengarang lagu, atau mengarang cerita bebas. Selama perjalanan biasanya dia nyanyi, mengomentari benda yang terlihat, atau sibuk 'berkicau' sendiri. Kalo Wafa diam artinya ngantuk atau sedih. Makanya kalo kondisi sepi selama perjalanan, si Abah suka ngecek ke jok belakang, apakah wafa tidur? Kalo nggak, Abahnya pasti nanya, soalnya jarang - jarang Wafa diam selama di mobil.

Wafa juga sudah bisa membantu Ummi mengocok telur, mengupas bawang dengan tangan, semua pekerjaan yang dikerjakan Ummi dan Abah seringnya Wafa mau bantu. Tapi Ummi masih batasin, apa yang bisa Wafa kerjakan dan tidak...

Wafa juga sayang adek baby di perut Ummi. sering dipeluk, di sun dan dikasi makan melalui mulut Ummi. Wafa tau kalo dedek baby makannya sama Ummi...
Oia Wafa juga mau sharing sama dedek baby di perut. Pernah suatu hari ditanya,
"Wafa mobilnya punya siapa?"
"Punya Ceuceu"
"Kalo dedek baby-nya sudah keluar?"
"Punya ceuceu dan dedek baby, baleng baleng (bareng -bareng) kan?"
Alhamdulillah... Ummi dan Abah pun berucap syukur ..

Semoga senantiasa mau berbagi ya sayang ....

Hmmh apa lagi ya sayang...
itu dulu kali yaa....

InsyaAlloh nanti sore Ummi dan Abah jemput ceuceu yaa..
Kita jalan jalan ke jako* ....

LuV

Friday, January 21, 2011

ternyata ...

mencintai itu beriringan dengan rasa bahagia ketika orang yang dicintainya bahagia
tak meminta balasan berimbang untuk orang yang dicinta, selama dirinya bahagia

mencintapun membuat jiwa bersedih ketika yang dicinta dirundung duka ..
menggerakan jiwa untuk bergerak.. membantu meringankan menghilangkan kesedihan

mungkin itulah sebabnya orang-orang yang saling mencintai karenaNya mendapatkan wajah yang terang benderang di jannahNya nanti
karena kecintaan yang tak berbatas, yang tak meninggalkan luka, yang tak merusakan, yang sejalan dengan keAgungan Cinta kepunyaaNya..
cinta yang membawa kebaikan, yang memberikan pertolongan tanpa imbalan
cinta yang tak tersekat duniawai..
cinta yang berujung kepada keabadian ...

semoga diri ini bisa mencintai karenaNya...
aamiin

Wednesday, January 19, 2011

ingin pulang..

merebahkan diri di pangkuannya..
melepaskan lelah jiwa

melihat senyumnya mengembang
meyakinkannya bahwa putri bungsunya beserta belahan jiwa dan buah hatinya baik-baik saja

merasakan sentuhan cintanya
belaian lembutnya
serta pelukan hangatnya...

mengicip kelezatan masakannya
mengalirkan kehangatan yang sulit terdefinisi..

menghirup udara yang begitu lekat denganku
merasakan nuansa ramah yang tak lekang waktu
menikmati kehangatan jiwa yang senantiasa terbuka menerimaku..

aku ingin pulang...

ingin pulang..


merebahkan diri di pangkuannya..
melepaskan lelah jiwa

melihat senyumnya mengembang
meyakinkannya bahwa putri bungsunya beserta belahan jiwa dan buah hatinya baik-baik saja

merasakan sentuhan cintanya
belaian lembutnya
serta pelukan hangatnya...

mengicip kelezatan masakannya
mengalirkan kehangatan yang sulit terdefinisi..

menghirup udara yang begitu lekat denganku
merasakan nuansa ramah yang tak lekang waktu
menikmati kehangatan jiwa yang senantiasa terbuka menerimaku..

aku ingin pulang...

Friday, January 14, 2011

mencintaimu ...


mencintaimu..
tidak seperti air bah yang datang tiba tiba,
namun berawal dari pancaran mata air yang kecil,
yang terpancar ketika mitsaqan ghalizha terucap
kemudian pelan dan pasti membentuk sungai
mengalir dari hulu dan insyaAlloh menuju muaraNya

mencintaimu,
tidak bergejolak seperti ombak yang besar,
namun tenang dan memberikan kedamaian..
seperti danau di antara pegunungan

mencintaimu,
tidak seperti dongeng happily ever after
ada benturan, cobaan dan godaan
namun, kita coba mengatasinya..
berdua... bertiga dengan mengadu kepadaNya ..

mencintaimu,
seperti kisah cinta yang lainnya
tentu diwarnai kebahagiaan,
diceriakan dengan tawa,
dilengkapkan dengan kesyukuran yang senantiasa mengalir dari dalam jiwa..

mencintaimu,
tak ingin hanya sebatas cerita Romeo dan Juliet
yang terpisahkan oleh maut dan tak tahu apakah di negri akhir akan berjumpa

mencintaimu,
ingin mencinta dalam keabadian..
senantiasa bersama hingga JannahNya..
bukan hanya diriku dan dirimu..
namun bersama buah hati kita, bersama orang -orang yang kita cintai dan mencintai kita ...

mencintaimu...
ku tak bisa berjanji akan selamanya..
namun aku akan senantiasa menjaganya..
berusaha memeliharanya..
memupuknya, menyuburkannya...
dan berdoa pada Dzat yang menggenggam hati..
agar Dia menjaga cinta kita...
selamanya...
hingga ke jannahNya...

mencintaimu,
empat tahun terasa sebentar saja...

mencintaimu ...

14 Januari 2007 - 14 Januari 2011




Wednesday, January 05, 2011

Al Umm madrosatun

"Al Umm madrosatun". Ibu adalah guru besar. Pertanyaannya, fasilitas dan sarana apa saja yang sudah disiapkan para suami agar istrinya bisa menjadi guru besar dan pencetak generasi".
-Ustz Luthfie Hasan Ishak-
Wuaaah, kayaknya yang mantengin tulisanku (emang ada ya penggemar setia tulisanku, GR akuut ..) pasti sudah sering membaca tulisanku tentang cita-citaku menjadi Ibu...
Dalam kenyataannya, dalam prakteknya, banyak hal yang jauh dari konsep dan jauh dari idealisme selama ini..

Disadari atau tidak, konsep pendidikan yang kuterima dari ortu banyak mempengaruhi caraku mengasuh Wafa. Ada yang baik, dan itu kusyukuri namun ada juga yang kurang baik, hal itu yang sering sulit untuk dihindari.

Mendidik dengan ilmu, idealnya begitu. Namun dalam hal pelaksanaanya, kadang meleset jauh. Apalagi kalo gak dibarengin ilmu, hanya ngandelin kebiasaan, mitos, ataupun nasihat tapi tidak disaring, difilter dan diteliti lagi, maka kemungkinan errornya besar. Lalu bagaimana nanti kita sebagai Ibu mempertanggung jawabkannya?

Mendidik dengan hati dan nurani. Sebenarnya, menurut saya, mendidik dengan hati akan menjadi sesuatu yang indah dan bermakna jika jiwa kita diliputi keimanan. Tapi kalo tidak, maka mendidik ngikutin kata hati bisa jadi bencana

Sering ketika memuhasabah diri, banyak hal yang terjadi diantara kami, Ummi dan Wafa adalah hal yang seharusnya dihindari... Tidak selamanya hubungan kami berjalan dengan mulus dan indah. Seringnya si Ummi nyesel, kok ya sikap si Ummi gituuuu? De el el de el el ...

Maka, ketika kata itu disematkan, Al Umm madrosatun, nampaknya masiiih jauh. Masih harus banyak-banyak baca, banyak banyak ibadah, banyak banyak belajar ...

Menurut saya pribadi juga, posisi sebagai Guru besar, guru peradaban dan pencetak generasi ini bukan hanya disematkan kepada seorang Ibu yang memiliki anak kandung. Bukan juga hanya kepada Ibu yang berprofesi sebagai guru, dan pendidik. Tapi kepada Ibu seluruhnya.

Ibu memiliki amanah untuk mendidik putra putrinya. Kumpulan Ibu jugalah yang akan membentuk komunitas sebuah masyarakat. Bagaimana Ibu-ibu itu menggunakan waktu luangnya, berinteraksi diantara sesamanya, hal itu akan mempengaruhi sebuah generasi.

Saya ibu-ibu (dooh akhirnya ngaku juga kalo udah jadi ibu-ibu ), hobinya kalo udah ngumpul dengan sesama ibu-ibu adalah makan dan ngobrol (weeewww, makin nduuut d!). bayangkan, transformasi informasi, kefahaman dan juga ilmu yang bisa mengalir dari obrolan antara ibu-ibu. Namun jika terjadi sebaliknya jika ghibah, gosip, ejekan, dan persaingan kekuasaan eeeh persaingan prestise yang dibicarakan oleh para Ibu-ibu itu, maka mungkin yang timbul adalah bencana global.. weeeiiih bahasanya.

Kenapa bencana global?
Pertama, dosa. Kedua kehilangan waktu. Ketiga kehilangan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Keempat, bisa jadi perang dunia kalo gosip itu meluas, kalo persaingan prestise itu melebar dll...

(deuuuh seriiiuss bangeet yak)

Tapi begitulah kenyataannya ...


Hemmmh... bayangkan jika komunitas ibu-ibu yang seneng ngobrol dan makan itu menghasilkan sesuatu, membincangkan sesuatu yang positif. Tentu kebaikan akan menyebar cepat.

Misal, ibu A punya kelebihan materi jadi bisa konek internet 24 jam. Dia punya akses informasi yang banyak, baik mengenai pendidikan, makanan, informasi terkini dll. Nah ketika ketemu ibu-ibu lain, dia membagikan informasi tersebut kepada teman ngobrolnya. Bisa dengan obrolan santai, ataupun dia print-kan dan bagi bagikan.
Wuaaaawww terbayang percepatan informasi dan pendidikan masyarakat yang minim biaya. Ibu-ibu jadi pinter d! Efeknya tentu ke pendidikan anak-anaknya dan juga manajemen keluarganya. Berfikir lebih kritis, bertindak pun jadi lebih bijaksana. gaya kan? Gayaaa

Ada lagi Ibu B yang hobi baca, punya koleksi buku nan banyak. Nah mungkin kelebihan inilah yang bisa dimanfaatkannya untuk sama - sama menjadi ibu yang cerdas. Baik dengan meminjamkan bukunya, maupun mengadakan obrolan santai, ringan, padat dan berisi... Hmmh jadi inget bala-bala nyam nyam nyam...

Apalagi kalo ada Ibu-ibu yang pinter masak, jahit, nyulam de el el de el el. Trus mereka mau membagikannya kepada ibu-ibu yang lain. Wooowwww, bisa jadi usaha mandiri d! Mengentaskan kemiskinan, insyaAlloh.
Ya gak ya gak....?
Dengan begini perekonomian keluarga terbantu, namun anak-anak tetap nomor 1. Gak usah kerja di pabrik lagi yang jam kerjanya dari jam 8-5, dengan gaji yang murah meriah. Soalnya sependek pengetahuan saya, buruh itu banyak perempuan karena bisa dibayar murah tanpa banyak protes. (Dooh jadi sediiihhh)


InsyaAlloh dengan makin banyaknya Ibu yang cerdas, maka makin banyak generasi muda yang juga cerdas fikiran, sehat jasmani serta ruhiyah yang bersih. Aamiin


Hmmmh mimpi yang indah...

Ayo Banguuuun....jangan cuma mimpi...!!!!!
Buruan mempersiapkan diri menjadi Al Umm madrosatun

siap.. insyaAlloh laksanakan


Sunday, January 02, 2011

berdagang.. ehh..

jangaan berdagaaang...
ups salah, eta mah harusnya begadang jangan begadang lagunya aki Oma

saya dilahirkan dari keluarga keturunan pedagang tapi gak PD berdagang..
Almarhum Bapa Aji, dan Almarhumah Ema Aji (Haji), kedua Kakek dan nenek saya dari Mamah adalah pedagang yang alhamdulillah sukses pada masanya. Bahkan alhamdulillah mampu mewariskan beberapa toko untuk anak-anaknya. Meskipun saat ini hanya sedikit yang menjadi pedagang

begitupun Almarhum Bapak Ude dan Mak Ude, panggilan untuk Kakek dan nenek dari Apa adalah pedagang. Bapak ude adalah pedagang keliling, bahkan sampai ke ujung timur pulau Jawa. Apa saya suka diajak dagang sampai ke ujung timur pulau Jawa itu. Hingga ketika kami tour mengunjungi Bapak dan Ibuknya Mas Teguh di Tulung Agung, Apa menceritakan kembali napak tilas perdagangan yang dilakukannya bersama Almarhum Bapak ude tercinta...
Heeemmmh mengharukaaan...

Meskipun berasal dari keluarga pedagang, namun Mamah dan Apa bukanlah pedagang. mereka berdua adalah Guru. Keduanya sama-sama memiliki cerita tentang perjuangan untuk dapat terus melanjutkan sekolah.

Mamah, yang setiap selesai satu tahapan jenjang sekolah selalu diminta menikah oleh kedua orang tuanya. Namun setiap kali itu pulalah dia melobi Paman-pamannya agar mau membujuk Bapak Aji agar mengijinkannya terus sekolah. Hingga alhamdulillah Mamah bisa kuliah sampai tahap Sarjana Muda dan menjadi Guru.

Begitupun Apa, ketika berdagang berkeliling Jawa, Apa pernah menangis di hadapan bapak Ude karena ingin terus melanjutkan sekolah.
*maaf ya Pak,' rahasia'nya diungkapkan disini, agar menjadi teladan untukku sepanjang masa
Dan demi terus sekolah juga, Apa sempat berhenti untuk bekerja setelah lulus PGA (setiingkat SMA). Serta untuk tetap bisa melanjutkan sekolah di IAIN, Apa kuliah sambil bekerja. Alhamdulillah Apa juga selesai menamatkan sarjana muda seperti Mamah.
Alhamdulillah, tak lama setelah menamatkan sarjana muda, keduanya pun menikah

Kecintaan mereka pada sekolah, pada belajar, itulah yang senantiasa ditanamkan kepada kami anak-anaknya. Sehingga keadaan sesulit apapun, Mamah dan Apa tetap mengutamakan sekolah. Meski jajan ngirit, tempat kost sempit, makan pun seuprit, namun sekolah harus tetap diutamakan

Meskipun sampai saya sekolah SD, Mamah dan Apa masih memiliki satu toko mebeul dan juga punya usaha tenda untuk pernikahan. Tapi mereka tidak pernah mengajarkan untuk berbisnis, menganjurkan untuk berdagang, ataupun berusaha mewariskan salah satu usahanya. Hanya satu prinsip yang kami ingat, kami harus sekolah

Namun, meskipun tidak pernah di didik secara explisit untuk berdagang, namun keduanya senantiasa mendidik kami untuk mandiri, serta berfikir kreatif dan senantiasa berusaha dalam hidup. Jadi, kami empat kakak beradik walopun tidak pernah dididik untuk menjadi pedagang, namun semuanya pernah merasakan berdagang untuk menambah bekal dari kedua orang tua, ataupun untuk menambah belanja dapur. Yup Teteh dan Aa saya pernah berdagang sepatu, bed cover, baju, kosmetik dll.

Pfuiiih.. perjuangan....

Sayapun ternyata tanpa sadar berdagang juga (heuheu gak mau ngaku) pas kelas 3 SMA. Saya lupa bagaimana mulainya, yang saya ingat ada yayuk jamu yang jualan ke depan kamar kost saya di Gerlong, Bandung. Selain jualan jamu, si yayuk juga jualan gorengan, donat dan gemblong. Mungkin awalnya saya mencoba membawanya ke sekolah, dan dijualkan kembali ke teman-teman dengan untung Rp 50/buah. Alhamdulillah laku keras, kalopun gak laku, sisanya saya makan sendiri .

Namun, akhirnye berhenti juga. Kalo gak salah karena merasa capek dan riweuh harus melayani berjubelnya pembeli (hahahahaha.. hipebola banget daah ), sementara saya masih pengen gaul ... .

Lalu sayapun pernah berjualan kosmetik A**N selama kuliah. Berhenti karena males juga bulak balik ke stockist tapi barangnya gak ada hehehe....Sementara beban kuliah di itebe makin hari makin menumpuk.

Dari dua kali pengalaman berdagang (yang saya ingat) itu, dua duanya tetap menyisakan perasaan gak PD dalam berdagang, serta merasa tidak kuat dengan penolakan.. cieeeeeeeh .
Maksudnnyaaaa???
Ya yang namanya berdagang, pasti kan ada saatnya gak laku, ada saatnya ketika kita udah menawarkan tapi gak ada yang mau beli. Nah saya merasa sakiiiit hati, dan gak kuat kalo barangnya gak jadi dibeli hehehehe... Mentalnya gak siap kayaknya ...

Sehingga berdagang bukanlah suatu 'pekerjaan' yang akan pertama saya pilih. Saya juga merasa tidak terlalu PD untuk membujuk orang lain agar menyukai barang dagangan saya. Itulah mengapa saya tidak pernah PD untuk berdagang. Setiap kali ada yang mengajak berdagang, saya tidak pernah berani untuk maju...

Begitupun ketika sampai ke negri jiran ini, ketika banyak saudari-saudariku, ibu-ibu yang sangat berjasa dan bersahaja menganjurkanku untuk berdagang disamping sekolah, jawabanku tetap sama, "Gak bisa"

Hingga tibalah saatnya, ketika beasiswa terhenti. Maka 6 bulan sebelumnya, saya mulai memikirkan alternatif lain mencari maisyah dengan berdagang. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, satu hal yang terpatri dalam hatiku. Alloh swt telah menetapkan rizki pada setiap hambanya. Dan merupakan sunatullah, bahwa rizki tersebut harus diusahakan, harus dijemput. Berhubung saya gak bisa masak, gak bisa bikin kue, gak bisa menjahit, maka berdagang adalah pilihan yang paling memungkinkan.

Saat ini, subhanallah, sudah hampir 1.5 tahun saya berdagang. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, yang tidak pernah saya yakini bahwa saya memiliki hati yang cukup luas untuk sebuah penolakan ketika dagangan saya tidak diminati pelanggan. Namun ternyata Alloh memberikan saya rizki melaluinya.

Yup, saya memang pernah ingin bekerja dari rumah, memiliki usaha di rumah tapi bukan berdagang menjualkan barang orang lain.
Tapi Alloh swt ternyata punya rencana lain dalam mendidik saya...

Tidak pernah terbayangkan, berdagang ini menjadi mata pencaharian utama bagi kami sekeluarga. Tak pernah membayangkan bahwa produk yang ditawarkan diminati oleh pasaran.
Subhanallah ... Alhamdulillah ..

Alloh lah Yang memudahkannya, Allohlah yang menghantarkan rizki bagian kami dari berdagang ini. Meskipun merasa tidak berbakat, tidak mampu, namun saya yakin ketika kita berusaha, Alloh tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha kita ...

Tak pernah terfikirkan sebelumnya bahwa saya akhirnya menikmati profesi sebagai pedagang ini, dan insyaAlloh berencana untuk tetap menjemput rizki dengan cara berdagang, selain dengan cara yang lain yang saya bisa.

Kenapa?

Karena begitu banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari berdagang...

Ketika berdagang, saya belajar untuk menjadi orang yang berpasrah padaNya setelah berusaha. Tak seperti orang gajian, menjadi pedagang kadang jualannya laku kadang sepi. Apalagi ketika kebutuhan mendadak tiba-tiba datang, maka pengharapan kepada Alloh begituuu besar, agar hari itu mendapatkan rizki yang baik. Hingga di setiap harinya senantiasa meminta agar dimudahkan rizki, dilapangkan hati dan dikuatkan jiwa untuk senantiasa bersyukur atas rizki yang diterima hari itu.

Berdagang juga membuat saya menikmati setiap sen uang yang saya peroleh. Apalagi jika barang jualannya secara kredit, maka setiap kali ada yang bayar, rasanya luaaaaaaarr biasa. Seperti menemukan oase di gurun pasir ... .
*hihihi hiperbole lagi..

Berdagang membuat saya belajar untuk mempercayai orang, belajar untuk berbagi...

Kefahaman tentang rizki tak seperti hitungan Matematika pun saya dapatkan dari berdagang. Terkadang kita berfikir untung yang besar adalah dengan nominal yang banyak. Namun, ketika kita membangun sistem kerjasama dengan bagi hasil, alhamdulillah keuntungan pun tetap diperoleh. Dan InsyaAlloh lebih barokah ...

Berdagang juga membuat otak saya senantias berfikir, jika model ini sudah tidak laku lagi, apa yang harus saya lakukan. Hemmh.. agar pemesanan bertambah, trik apa selanjutnya. Berfikir dan berfikir... kadang lelah, namun itu membuat otak saya bekerja. Semoga juga menjadi pencegah agar tidak mudah tumpul

Tangis, tawa, bahagia, duka, kecewa... pernah dirasakan...
Mata bengkak karena menangis semalaman? Itu juga pernah hehehe.. dasar cengeng yaa..

Tapi subhanallah, begitu banyak riak yang di dapat, begitu banyak juga hikmah yang bisa di ambil...
Merasa di dewasakan olehNya dengan berdagang ini ...

So.. jika ada masa, kesempatan, serta keadaan memungkinkan..
Saya ingin tetap berdagang...
Agar tetap dapat mendapat tarbiyah yang luar biasa itu ...

semoga senantiasa dikuatkan, dilapangkan.. dan dimudahkan ..
aamiin

^__^