Wednesday, March 30, 2005

Lelaki Idaman

Judul yang horror menurutku…
Kalimat ini muncul dari diskusi sebuah milis yang saya ikuti (jangan pad ge-er ya!)
InsyaAllah bukan sebuah obrolan yang ga jelas di milis itu, tapi kalo ga salah di diskusikan untuk masukan bagi sebuah cerpen.
Bagi saya, terlalu privacy untuk menyebutkan criteria lelaki idaman (itu juga kalo ada).
Lho ko?
Trus kenapa saya nulis tentang ini?
Ngga… hanya teringat masa lalu…
Saat dimana ada sebuah masa, ketika berjuta identifikasi tentang lelaki idaman berputar dipikiran saya. Dan lucunya, itu ga konsisten, karena seringnya berubah jika menemukan sosok baru. Alhamdulillah, 4JJI masih menjaga saya. Jadi sosok ideal itu hanya sempat berkelebat kemudian menghilang. Alhamdulillah, tak terperosok ke dalam zina.
Sampai pada sebuah pemahaman, bahwa saya tidak bisa mendefinisikannya. Karena setiap jiwa bagaikan sebuah pecahan-pecahan puzzle yang akan 4JJI pasangkan dengan pecahan-pechan puzzle lainnya yang sangat tepat. Maka untuk mendapatkan pecahan-pecahan puzzle terbaik yang akan membawa kita dalam cintaNya, maka kita harus memperbaiki pecahan-pecahan puzzle yang kita punya, sehingga akan tampak pas dan klop. Karena janji Allah…

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
QS An-Nurr 26

Gradasi

Sebelumnya mari kita bagi bahasan kita menjadi tiga termin zaman,
Pertama, zaman dulu banget,
Kedua, zaman dulu,
Ketiga, zaman sekarang,

Dulu… banget, paling males nonton tipi soal berita terkini, abis suka sakit ati. Banyak kedzaliman dimana-mana, tapi saya ga bisa apa-apa, cuma diem dan nangis, I’am no body tea…
Trus anti demo juga, pikir-pikir, ngapain demo? Bikin macet. Mendingan belajar buat ngebangun bangsa dari dalem. Ntar kalo pada pinter kan bangsanya bakalan maju, sehingga ketidak adilan juga bakal berkurang.

Nah itu dulu banget, sekarang maju sedikit…
Dulu, pas mahasiswa, berubah total deh! Jadi semangat buat nonton tipi. Walopun ga banyak, tapi setidaknya ada setitik yang bisa saya lakukan. Mengenal dunia kemahasiswaan, mengenal pergerakannya dan mengenal aksi-aksinya, menjadikan saya merasa ada sedikit manfaat. Laksana pasir di bangunan yang sangat besar, tak terlihat namun bermanfaat. Oke, saat itu saya bukan seseorang yang mampu mengubah dunia dengan tangan saya, tapi saya yakin saat itu saya berada di dalam barisan bersama orang-orang yang menginginkan perubahan. Makanya, saya pernah bilang, bahwa amanah ini, dunia kemahasiswaan ini membangunkan saya dari tidur panjang dan keapatisan. Jujur, saya tidak terlalu lama ada disana dan juga tidak memberikan kontribusi yang berarti. Tapi sebaliknya, dunia kemahasiswaan dan kawan-kawan yang berada didalamnya (terutama ade-ade yang lucu :D) telah banyak memberikan kontribusi yang signifikan bagi pola fikir dan pemahaman saya. Syukran wa jazakumullah khairan katsira ya teman-teman!
Tentang demo? Setuju banget. Ok bikin macet, tapi bayangkan kalo kita tidak bergerak, maka kemacetan akan semakin lama, yaitu kemacetan dalam hal perubahan ke arah perbaikan. Berkorbanlah barang sebentar! Walopun mungkin hasilnya tak selalu terlihat langsung secara signifikan, tapi aksi demo ini bisa bikin geumpeur pejabat-pejabat yang ada di atas sana. Buktinya, setiap rezim di Indonesia bisa berakhir dengan pemicu pergerakan mahasiswa, diantaranya dengan demo-demo itu. Lagian kalo kita adem-ayem aja, ntar mereka ga nyadar kalo ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan. Wong kita teriak-teriak aja mereka tutup kuping ko! Tentang belajar, kan mahasiswa harus bisa belajar dan ber-aksi (cieee… 4JJI Akbar!). Ga berarti kalo sering demo trus ga bisa jadi cendikiawan. Inimah gimana manajemen waktu dan prioritas masing-masing aja. Justru dengan demo inilah saatnya mahasiswa turun kebumi, melihat dan mendukung serta memperjuangkan rakyat yang telah ikut membiayai sekolahnya (ini-mah khusus buat mahasiswa sekolah negeri sebelum jaman BHMN..:D). Bukan hanya berkutat dengan segala materi perkuliahan, toh akhirnya kita akan balik kemasyarakat. Jadi, agar tidak menjadi menara gading, asahlah kepekaan kita dengan berbaur dan berjuang bersama. Walopun tidak setiap demo murni untuk perubahan, tapi disanalah peran sang pejuang yang harus selektif, jangan mau dibayar. Emangnya kita semurah itu? Kalo mau sekalian bayarannya yang tinggi banget, yang kira-kira sepadan dengan jiwa dan kecerdasan yang telah 4JJI berikan sama kita. Tapi dijamin ga akan ada harga yang pantas. Mau gitu kita dibayar semurah itu?

Kini, masa telah menunjukan waktu sekarang.Sekarang perasaan malas untuk nonton tipi menyaksikan berita terkini sedikit-sedikit mulai menyergap. Bukan, bukan karena saya sudah tidak berada di barisan yang menginginkan perubahan, InsyaAllah selama Allah memberi hidayah, saya masih berada di dalam barisan itu. Ikut berbuat dan melakukan sedikit perubahan, tetap sebagai pasir dalam bangunan yang sama. Bukan, bukan pula karena bosan menjadi sebuah pasir dan ingin berubah menjadi bata, toh pasir dan bata sama pentingnya, selama Allah melihat kita. Tapi, rasa itu hadir karena pergerakan yang dilakukan pasca mahasiswa tak seaktif dulu. Dulu ketika ada sesuatu yang tidak beres, kami langsung berkumpul dalam sebuah lingkaran, setidaknya untuk berdiskusi, apa sikap kita, mahasiswa untuk memperbaiki itu. Kini, jangankan ada teman berdiskusi, terucappun jarang. Ketika kembali ke rutinitas, maka dihadapanku ada sebuah computer, yang tidak bisa untuk diajak bicara dan berdiskusi. Teman-teman sekerja-pun tak pernah membahasanya, palingan kalo heboh banget, itupun hanya pembahasan sesaat, tidak menghasilkan sebuah kesimpulan. Sehingga kepekaan itu semakin terkikis membentuk jiwa yang semakin hari semakin kerdil, semakin hari idealisme diri semakin bergeser. Orientasi terus berubah diseputar pemikirkan tempat kerja lainnya yang bisa memberikan penghasilan yang lebih banyak. Astagfirullah…
Insya4JJI masih berada dijalan perubahan…hanya dengan jalur yang lain (kali ya?). Mungkin kini saatnya berada di dunia yang lebih profesional, melakukan perubahan dari tempat kita berada sekarang, melakukan tindakan sesuai dengan kafaah dan keadaan kita sekarang, berjuang dengan bentuk yang berbeda. Insya4JJI… Semoga memang senantiasa terjaga…
Tentang demo? Insya4JJI tetap mendukung, 4JJI Akbar!!!Cuma suka gemes hehehe…pingin ikutan sama mahasiswa untuk berdemo lagi, semangatnya itu lho, perjuangannya itu lho dan ukhuwah yang selalu terasa setiap kali aksi. Memberikan makanan bagi ruh-ku, memberikan stimulus bagi langkah-langkahku. Karena dalam setiap baris yang saya masuki, terdapat beribu wajah penuh keikhlasan dan kesabaran. Yakin hanya 4JJI Yang Memberikan Balasan. Kaki-kaki yang sabar untuk bergerak cepat, menerima perintah dari seseorang, yang bahkan mungkin tidak dikenalnya, tapi terasa ikhlas dan dekat, karena 4JJI telah mengikatkan hati-hati mereka bersama dalam sebuah perjuangan membela kebenaran. Suara-suara itu, yang tak kenal lelah meneriakan lagu perjuangan, yang tak lelah meneriakan ajakan-ajakan kepada kebaikan atau meneriakan ketidak setujuan atas sebuah kedzaliman. Wajah-wajah itu, yang walaupun tampak lelah tapi tetap semangat menelusuri setiap jalan yang dilalui.
Ikutan lagi demo ma adik-adik? Ga ah, bukan lagi masanya, kecuali memang harus. Menyadari, bahwa cara perjuangan kami mungkin aga sedikit berbeda. Bukan, bukan anti demo. Kalo memang perjuangan yang kami lakukan harus dengan demo, Insya4JJI saya siap. Tapi kalo kembali ke barisan bersama ade-ade kecilku, ntar disangka penyusup lagi, ato provokator hihihi… kan ga lucu kalo nanti ketangkep…
Hanya saja ingin kembali berucap…
Bangkit, lawan, hancurkan tirani…
4JJI Akbar…Inna4JJI ma antum (including me :D) … Insya4JJI
Amiin…

Tuesday, March 29, 2005

Tamasya ke Leuwi Gajah

Jam menunjukan sekitar jam 9-an lebih ketika angkot yang kami tumpangi mulai masuk ke jalan yang cukup “garijlug” dan menanjak. Heran, kenapa banyak sekali orang yang dating, dengan pakaian tamasya. Penduduk sekitar gitu? Ah tak mungkin kayaknya. Masker pun sudah mulai kusiapkan, mungkin bau menyengat itu akan segera hadir. Tapi , ups oia maskerku kutitipkan pada seorang teman di angkot yang berbeda. Akhirnya kami sampai ke bagian gundukan sampah, ya ga terlalu tinggi seeh. Tapi mirisnya ada beberapa rumah huni disekitar sampah tersebut.
Tak lama angkotpun berhenti dan kamipun turun. Singkat cerita kami berjalan berkelompok, dengan tiap kelompok beranggotakan 5 orang. Jalanan yang dilalui? Berat, lumayan berat buat “orang kota” kayak kami. Kami melewati petakan-petakan sawah. Beberapa orang diantaranya,… gudubrak! Jatuh keselokan. Dan bukan hanya sekali, tapi beberapa kali dan beberapa orang. Tiba-tiba da pemandangan menarik, tidak jauh dari tempat kami berjalan, ada tukang balon dengan membawa “segudang” balon. Pikirku, mmh ngapain tukang balon ke tempat musibah? Dan memang disepanjang jalan itu, kami juga bertemu dengan beberapa rombongan berpakain necis mirip orang yang mo tamasya. Tapi, ah sudahlah tak kufikirkan saaat itu. Mungkin dia memang penduduk sekitar yang sudah bepergian dari kota dan hendak pulang ke rumahnya.
Sampailah kami ke perkampungan, di sepanjang jalan itu, tampak beberapa rumah yang kosong tanpa penghuni. Tampaknya ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi. Ketika kami agak naik ke atas, ke jalan yang lumayan besar . Astagfirullah al’adzim, saya kaget lagih. Banyak pedagang makanan(jajanan), penjual mainan anak dan juga orang-orang yang berpakaian wisata. Bukankah ini tempat musibah? Kenapa berubah jadi taman bermain begini?
Perjalanan dilanjutkan ke posko balai pengobatan dan basecamp-nya relawan, yang berhadapan dengan mushala kecil, tempat memandikan dan mengkafani mayat. Tampak rumah disekitar posko itupun sepi tanpa penghuni. Sesampainya disana, kami bertemu dengan beberapa Teteh relawan. Sambil beristirahat melepas lelah, kamipun berbincang-bincang dengan Teteh-teteh relawan tersebut. Subhanallah, pada hari kedua-karena saking banyaknya mayat yang ditemukan- merekapun memandikan mayat. Menurutku itu sangat berat. Kebayang kalo rela yang “ditodong” untuk mengurus mayat. Wuaa tak terbayang. Jadi tergugah untuk kembali membuka buku dan mencoba mempraktekan bagaimana mengurus mayat. Soalnya lupa lagi…
Sebenarnya tak banyak yang bisa kami lakukan, karena ternyata, tim kepanduan kabupaten telah memanagement semuanya dengan baik. Tapi, agar kami bisa lebih “bekerja’ dan “ berlatih” agar terbiasa di tempat musibah, kamipun diberi tugas untuk berjalan keliling kampong, memberitahukan bahwa ada POS Kesehatan atau balai pengobatan yang dibuka setiap harinya dari jam 9 sampai jam 5. Maka kamipun berkeliling per 2 regu. Reguku mendapatkan amanha untuk memberikan pengumuman ke daerah atas. Huah!!! Subhanallah , Allahu Akbar! Medan yang kami lalui cukup berat, karena semalam hujan, jadi tanahpun becek dan licin. Jadi harus super hati-hati. Dan, sama seperti sebelumnya, sepanjang jalan kami bertemu dengan para “turis” yang ingin menyaksikan lokasi musibah. Ternyata memang benar, bahwa orang-orang yang kutemui dari sejak awal memasuki daerah ini adalah “turis”. Mmh jadi miris, kebayang kalo kita yang kena musibah. Terus dating orang berduyun-duyun untuk “menonton” dan “menyaksikan” musibah yang kita alami. Perih bukan? Ya wallahu’alam apa tujuan mereka, semoga memang sebelum mereka “menyempatkan” diri untuk bertamasya, mereka tak lupa untuk menyisihkan apa yang mereka punya untuk membantu para korban.
Cerita berlanjut, ternyata kami hanya bisa memberitahukan ke beberapa rumah saja. Ya kurang dari sepuluh–lah. Karena kami berpapasan dengan regu lain. Daripada overlaving, ya udah kami cari daerah lain. Oia lupa ngasi tau, kalo kami “gelap” sama sekali dengan daerahnya. Bahkan tiga orang ikhwan yang jadi ‘penjaga’ pun bukan berasal dari tim kabupaten, tapi tim kota. Jadinya kami nyasar-nyasar (nebak-nebak jalan) untuk mencari rute. Singkat cerita, kami mendekati perkampungan yang terletak dipinggir jalan besar yang bisa dilalui mobil. Difikir-fikir, ngapain ngasi tau ke mereka ada balai pengobatan di puncak bukit, padahal lebih mudah bagi mereka naik ojeg dan berobat ke kota. Ya sudah kami putuskan untuk mengambil jalur lain. Disepanjang jalan kami bertemu dengan para turis yang dengan baik hati memberitahukan rute yang mana yang bisa dilalui agar bisa melihat lokasi bencana dengan baik. Kami hanya tersenyum dan balik bertanya, mmh ada rumah ga di daerah yang bapak lewati? Soalnya target kami adalah rumah berpenghuni. Jawabannya bermacam-macam, ada yang bilang ada, ada yang bilang ngga, bingung jadinya. Sampai ada seorang ibu-ibu yang bilang,”Ada neng rumah, ya melewati dua gunung”. Subhanallah, dua gunung! Mmh bukit kali ya bukan gunung. Yang ada kami hanya tertawa, ya dua gunung ya? Akhirnya tim memutuskan, tak ada salahnya kita coba untuk menaiki ‘dua gunung’ dan mencari rumah penduduk. Toh waktu yang diberikan masih lama, dan rasanya malu kalo harus kembali ke POS dan tidak bisa berbuat banyak.
Petualanganpun dimulai. Medan sama beratnya seperti sebelumnya. Saking licinnya, sampai-sampai kami punya sepatu baru berwarna coklat (banyaknya lumpur yang nebeng di sepatu). Selama perjalanan kami tetap bertemu dengan beberapa turis. Sampai akhirnya tiba di puncak bukit dimana dari sana kami bisa melihat daerah bencana dengan sangat jelas. Miris rasanya, ingin menangis. Tumpukan hitam berupa sampah yang sudah sangat busuk menutupi rumah-rumah yang sudah tak terlihat lagih. Ada beberapa alat berat diatasnya untuk mengorek-ngorek sampah. Ah, tak terbayang kesabaran para tim SAR, diantara tumpukan sampah itu harus mencari jutaan korban yang tertimbun, yang dipastikan telah berubah menjadi mayat, sehingga menambah bau busuk yang tercium. Selama perjalanan sampai keatas bukit, tak satupun rumah yang berpenghuni kami temukan. Akhirnya, kami harus turun dengan beberapa alternative. Sang ‘penjaga’-pun mulai mencoba jalan alternatif terlebih dahulu, mana yang lebih aman dilalui oleh kami, akhawat’er (lucu rasanya, kayak anak kecil :D, tapi subhanallah mereka menjaga dengan hijab yang baik). Setelah mereka menemukan rute terbaik, akhirnya kami turun. Alhamdulillah, walaupun misi utama kami- mencari rumah penduduk berpenghuni- gagal, setidaknya kami dapat bermanfaat untuk membantu para turis melewati jalan yang licin. Baju kami-kan sudah baju lapangan, jadi tak mengapa jika kotor dan bau leutak.
Sampailah kami kembali ke POS, teuteup, kami kelompok petama yang nyampe. Padahal itu the udah ‘jalan-jalan’ ke atas bukit. Akhirnya kami menunggu kelompok lain dengan duduk-dudk santai. Ga enak seeh, solanya bapak-bapak yang lain pada kerja, abis mo ngapain coba? Kita-kan nurut apa kata mas’ul, kalo dikasih tugas lain Insya4JJ1 siap. 4JJ1 Akbar! :D
Selama menunggu kelompok yang lain, ada beberapa mayat yang berdatangan. Mayat pertama dan kedua, tak terlalu menyengat. Ketika dating mayat ketiga, MasyaAllah, perutku langsung mual, sehingga secara refleks langsung lari menjauh. Astagfirullah’al adzim. Bayangkan, keadaan aceh yang lebih parah. Jika saya berada disana? Entahlah mungkin tak kan kuat bahkan mendzalimi yang lainnya.

Subhanallah para pejuang itu, para relawan itu. Saya, kecil sangat kecil.
Tapi Insya4JJI niatku tak-kan surut untuk datang ke daerah bencana. Tetap ber-azzam untuk melatih jiwa dan fisik yang manja ini agar siap bantu sesama. Untuk membantu yang tertimpa musibah. Untuk menebar sedikit kasih sayang yang telah 4JJ1 berikan.
Allahu'alam bi shawab...
Akhirnya waktu beranjak petang, saatnya untuk pulang. Sepanjang jalan banyak pos relawan lain yang dilalui. Selamat berjuang ya saudaraku!
sejuta hikmah dan cinta kuraih disini...
semoga 4JJI membalas pengorbanan dan perjuangan mereka dengan yang lebih baik...
serta menerima arwah para korban ditempat yang terbaik...
amiin...

Kini sebulan lebih tlah berlalu dan saya tlah melupakannya. Saya tidak tau dengan kabar Leuwi Gajah. Ketika kembali ke rutinitas, semua masalah disekitar seakan tertelan, lenyap. Astagfirullah Al'adziim...
Dan bencana ini bukan hanya untuk saudaraku di leuwi gajah, tapi seluruh bandung juga. Karena sejak hari itu, sampah semakin menumpuk dimana-mana menyebar 1001 penyakit. Yah (mungkin) agar warga Bandung pun ikut merasakan, jangan hanya mau buang sampahnya sajah dan lepas tangan, ga mau tau soal pengolahan dan lainnya. Karena ternyata terasa sendiri, jika daerah pembuangannya tertimpa bencana, maka kita -warga bandung- juga yang ikut merasakannya... 4JJI'alam bi Shawab..
semoga bisa mengambil 1001 pelajaran dari sini...

---jiwa kerdil yang mencoba untuk lebih dewasa dan melatih fisiknya agar tak terbiasa manja--

:(

Ane Kesssssseeeeeel…
Tsunami menghantam pesisir timur
BBM naik ditengah ‘ketidak’ siapan masyarakat
Ambalat dicaplok ma Malaysia
Eeh tiba-tiba…
Jedang!!!
Anggota DPR minta naik gaji,
Ga sale tuh!
Hari gini minta naik gaji,
Yang ade keluarin tu gaji zakatnya, pajaknya, infaknya
Buat bantu rakyat miskin…
Ok d, gaji mereka ga setimpal, masa non-parle (ini istilah Aleg yang diwawancarai di Metro Tv) aja gajinya 7 juta
So what gitu lho! Ente kan udah dapet 25 juta, kagak cukup juga
Internet sebulan 3 juta, kan masih ade sise 22 juta
Makan apa see ente sampe duit 25 juta aja kagak cukup
Ane aja kagak pernah liat duit sebanyak 25 juta, paling banter liat 5 juta
Itu ajah udah ngeleper
Aduu ane keseeeel…..banget
Apa mereka kaga’ pernah baca shirah nabi dan sahabat,
Belajar tuh dari ke-zuhudan Umar,
Pas naik ‘jabatan’ bukannya minta naik ‘gaji’, malah semua kemewahan dunia dia lepasin,
Padahal dia tu khalifah di zajirah yang gede,
La ente mah kaga’ ada setai kukunya d!
Dia khalifah, ente...ah lewat!!!!
Kalo dia mau, gaji miliaran bisa dapet, toh rakyatnya jg ga semiskin di kita,
Dan penghasilan negaranya pung GEDE!
La ente, udah tau rakyat kelaparan, minta naik gaji?
Kaga sale tuh!
Mo ditaruh dimana muka ente kalo Allah bertanya?
Kagak bisa lagih ditaruh didepan dengan muka angkuh,
Bahkan (mungkin) kalo bisa ente ngelelep ke dasar bumi,
Tapi ane tenang, soalnye walopun ente ngelelep ke dasar bumi, pas waktu itu, ente kagak bisa ngilang-ngilang lagih kaya sekarang
Jadi ente bisa memPERTANGGUNG JAWABKAN semuanya
So…
Tetep, Ane Keseeeeeeeeeeeeeeeeeeeel….. <_>

àga sunda banget, gini nee kalo lagi kesel
-9maret05-



....sekarang 29 maret..nias terguncang...
ya Rabbi..ampuni kami....
ya Rabbi...ingatkan pemimpin kami, agar semua kembali baik...amiin

Monday, March 28, 2005

Beautiful

Every day is so wonderful. And suddenly, it's hard to breathe. Now and then, I get insecure. From all the FAME, I'm so ashamed. I am beautiful no matter what they say. Words can't bring me down. I am beautiful in every single way. Yes, words can't bring me down. So don't you bring me down today. To all your friends, you're delirious. So consumed in all your doom. Trying hard to fill the emptiness. The piece is gone, left the puzzle undone. That's the way it is. You are beautiful no matter what they say. Words CAN'T bring you down. You are beautiful in every single way. Yes, words CAN'T bring you down. SO Don't you bring me down today...
No matter what we do (no matter what we do). No matter what they say (no matter what they say). When the sun is shinin' through, Then the clouds won't stay.
And everywhere we go (AND everywhere we go). The sun will always shine (sun will always ALWAYS shine)And tomorrow will find a way, All the other times. We are beautiful no matter what they say. Yes, words won't bring us down. We are beautiful IN EVERY SINGLE WAY. Yes, words can't bring us down.
SO Don't you bring me down today. Don't you bring me down today. Don't you bring me down today...

----christina aguilera-


mmh yeah.....we're beautiful no matter what they say...

teringat (dulu)
saat imej kesempurnaan terdefinisikan sebagai keindahan dalam bentuk fisik...
sering berkata dalam hati,
mmh coba kalo saya secantik si A, mana badannya proposional lagi,
ato...
enak ya si B, kalo mo apa-apa gampang, tinggal minta sama mamahnya, kitamah mo beli chiki ball aja musti nunggu setaun pas lebaran aja...
ato...
wua pintarnya, ga usah cape belajar kaya saya ya? coba kalo saya sejenius itu...
serta banyak pengharapan-pengharapn lain dalam hidup yang saya nilai dari luar (dulu) ...

mencoba merenung...

andaikan Allah memberikan saya karunia dan ujian kecantikan lebih dari yang Dia berikan sekarang,
mungkin tak henti-hentinya saya bertabaruj, bahkan mungkin sampai saat ini aga 'malas' untuk menutupi aurat, karena merasa sayang jika ni'mat Allah akan kecantikan tak bisa terlihat lengkap...nau'dzubillah..

andaikan 4JJ1 memberikan saya karunia dan ujian kekayaan lebih dari yang Dia berikan sekarang,
mungkin sampai saat ini saya tidak akan merasa bersyukur dengan rizki yang Allah berikan melalui tangan saya, karena, ah uang dari mamah saja lebih dari ini, kenapa harus bertahan bekerja disini?
ato mungkin batin saya tidak cukup kuat, sehingga kepekaan akan lingkungan terkikis habis, akibat kemewahan dan kenyamanan yang tlah terbiasa kuperoleh...

andaikan 4JJ1 memberikan saya karunia dan ujian kepintaran lebih dari yang Dia berikan sekarang,
mungkin jiwa kerdil yang saya punya akan membuat saya menjadi sombong dan bahkan berbuat kerusakan yang jauh lebih banyak dengan kepintaran yang saya punya...

saya harus banyak bersukur...
karena apa yang saya punya hari ini, adalah bentuk terbaik yang telah Allah berikan...
saya harus banyak bersyukur...
karena segala kekurangan duniawi yang saya miliki adalah yang terbaik untuk saya
bukan, bukan dengan kekurangan yang saya punya kemudian melihat kebawah untuk menghibur kemudian merasa bersyukur karena kasihan...
tapi apa adanya saya sekarang, itulah yang patut saya syukuri...
karena seseorang yang lebih 'bawah' pun secara duniawi bukan untuk dikasihani dan dijadikan penenang hati, karena itulah bentuk terbaik yang 4JJ1 berikan pada mereka...
karena mereka -pun yang lebih 'bawah' menurut kita, mereka tetap beutiful dihadapanNya...
keadaan tersempurna menurut ilmuNya...

setiap kita cantik...
setiap kita pintar...
setiap kita kaya...
sesuai dengan apa yang telah 4JJ1 gariskan...
karena cantik, pintar, kaya menurut ukuran dunia adalah relatif...
tapi 4JJ1 telah mempunyai rumus yang tetap bagi kita...
sehingga kita diberikan kecantikan, kepintaran dan kekayaan yang sesuai menurutNya...
we are beautiful no matter what they say...

selama kita tetap berjuang untuk meraih keadaan yang lebih baik, maka syukurilah apa yang kita punya, karena

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-hujurat:13)

jadi seperti apapun 4JJ1 memberikan bentuk duniawi pada kita, itu adalah bentuk terbaik menurutNya....
no matter what they say.....
asal 4JJ1 menggolongkan kita menjadi orang-orang yang bertaqwa....
karena semua bentuk duniawi..adalah karunia sekaligus ujian bagi kita...
sanggupkah kita dengan bentuk duniawi itu mencapai deajat taqwa yang 4JJ1 perintahkan...
4JJ1' alam bi shawab...

Saturday, March 19, 2005

lagi,

lagi, hari ini saya pulang malam...
lagi, saya mencium bau anyir itu...
lagi, jiwa rapuh itu menangis didepan semuanya...
lagi, kutau saya harus berubah...
lagi, perubahan itu hanya saya yang bisa melakukannya, tidak yang lain
lagi, tapi kurasakan begitu berat...
lagi, ternyata saya tak bisa menggapai 200%...

Rabbi akhirnya saya ingin menangis sekali lagi




ditengah sejuta beban berhimpit dan ketidak istiqamahanku...

Tuesday, March 15, 2005

medio maret 2005

hari ini saya mencoba dan berAzzam untuk berubah
agar meminimalisir fitnah
doakan yah!
agar tetap istiqamah

Saturday, February 26, 2005

Aku Ingin

Aku ingin menjadi wartawan,
Agar aku bisa melihat berita dengan mata kepalaku sendiri,
Datang ke tempat konflik dan mengetahui apa yang sebenarnya terjad,
Menengok tempat bencana dan tau apa yang bisa kubantu,
Setidaknya dengan berita benar yang kutayangkan,
Agar berita tak membohongiku,
Agar walaupun banyak sensor dalam sebuah berita, aku bisa tau yang sebenarnya
Dan berkata pada duniaku,
Apa yang sebenarnya terjadi,

Aku ingin menjadi seorang presenter,
Memandu diskusi-diskusi berbobot,
Bersama intelek-intelektual dunia,
Atau cendikiawan-cendiakawan berilmu tinggi,
Agar bisa kucuri ilmu mereka,
Dan kusimpan dalam jutaan sel dalam otaku,
Akupun bisa mengorek dari penjahat terselubung yang ternama,
Agar -walaupun mereka tidak mengaku- aku bisa membuatnya malu,
Bahwa apa yang dilakukanya sangat jahat,
Atau lebih baik lagih,
Aku bisa membeberkan pada masyarakat,

Aku ingin menjadi dokter,
Atau mungkin perawat,
Agar bisa menolong yang sakit (standar anak-anak banget!)
Agar tak kebingungan seperti sekarang,
Ketika jiwa ingin pergi ke tempat musibah,
Tapi bingung, aku bisa apa?
Tapi jika aku seorang dokter,
Maka tanganku bisa mengobati yang terluka,
Dan pergi membantu di tempat musibah dimanapun,
Karena aku pasti berguna,
Atau mungkin….
Mmmh… karena uangku banyak, aku bisa membantu pasienku yang tak bisa membayar (biaya pengobatan kan mahal)

Aku ingin jadi sastrawan,
Akan kutulis puisi yang menawan,
Agar tergugah sebongkah hati yang beku,
Serta mencair menemukan tempat mengadu,
Kan kubuat cerita bermakna,
Agar bisa kupengaruhi sejuta jiwa yang fana,
Sehingga tersentuh hati mereka,
Dan peduli dengan penderitaan sesama,

Aku ingin menjadi ilmuwan,
Kan kukreasikan bermacam-macam penemuan,
Serta menggali sejuta keajaiban,
Serta mengatakannya pada khalayak ramai,
Agar mereka semakin bertaqwa,
Sehingga nama Allah tersebut dimana-mana,
Seperti seorang Harun Yahya,
Yang dengan sejuta ilmunya,
Dia membuat berjuta orang tersadar
Bahwa Allahlah Yang Maha Kuasa
Dan manusia tiada berarti tanpaNya

Aku ingin menjadi guru,
Kan kutoreh lembar putih di jiwa-jiwa murni itu,
Menjadi sebuah buku penuh warna,
Yang kan menyejukan berjuta hati karena ilmunya,
Dan mencerahkan berjuta jiwa karena kecerdasannya,
Kan kuberikan jiwa-jiwa mungil itu,
Sebuah kepercayaan,
Sehingga mereka bisa berkembang,
Seperti adanya mereka,
Tanpa ada hak sekitarnya yang terdzalimi,
Karena Allah telah menanamkan dalam setiap jiwa,
Sebuah hati yang murni dan uniq,
Yang akan berkembang sesuai dengan tempat yang menumbuhkannya,

Aku ingin menjadi Azkar,
Kan kujaga saudaraku,
Jangan sampai ada yang terluka,
Dan menangis karena dianiyaia,
Kan kubela tanah airku,
Agar tak ternoda oleh berjuta tikus busuk yang menyeringai,
Kan kumaju kemedan perang
Agar bisa menjemput syahid seperti syuhada-syuhada Allah

Aku ingin menjadi istri,
Agar bisa menggapai separuh dien,
Hingga bisa berusaha menggenapkan lagi setengahnya
Agar bisa membantu mujahid,
Tuk bermanfaat di medan juang,

Aku ingin menjadi ibu,
Agar bisa melahirkan jundi-jundi,
Yang siap menjadi “pahlawan”,
Dan berjuang di medan perang,

Aku ingin menjadi da’iyah
Karena
Perniagaanku hanya dengan Rabbku
Karena,
Tak ingin Allah tak melihatku karena “diam’nya aku
Karena,
Nahnu du’at, qobla kuli sai’in,
Tak ada tawar-menawar lagi,

Sekarang, dimanakah aku?
Telah sampai pada belahan Aku yang mana?
Ataukah hanya terdiam,
Dan mencari sejuta alasan,
Agar tetap bisa duduk dan merasa nyaman,
Serta berangan,
Menghasilkan berjuta-juta ”Aku Ingin” lainnya


dibalik ketidak sukaanku pada kata “Aku Ingin” coz it sound so selfish (OS banget ga seeh?), but I can’t find a better words than this

Rokok Kijang Hijau

Suatu malam dalam angkot (aduu ketauan !!! pulang malem), abis lembur untuk ngejar kerjaan segudang. Hampir tiap malam dalam minggu ini pulang lebih dari jam 7 . Alhamdulillah malam ini ada mamah dan apa di margahayu, jadi pulangnya bisa ke sana. Lumayan lebih save dan dekat dibanding harus ke rumah teteh. Malam itu, rela keluar dari kampus dan naik angkot sekitar jam 8.
Semuanya biasa saja, sampai akhirnya angkot nge-tem di depan gedung annex, balubur. Disana naik seorang laki-laki dengan tampang lumayan serem dengan celana jin sobek dimana-mana serta rambut kusutnya. Tiba-tiba ketika sampai disekitar jalan diponegoro, laki-laki itu berkata,
“ Maaf saya boleh merokok?”,
Tepatnya rela lupa lagi, tapi intinya seperti itu. Refleks dong rela bilang,
“Maaf, kalo bisa jangan!”,
Kata itu rela ucapkan berulang kali, karena dia tampaknya kurang bisa menyimak apa yang rela katakan. Kemudian rela berkata lagi,
“Maaf ya!” (bayangkan muka orang yang meminta maaf tentang hal sepele pada sahabat atau teman karib!)
Tiba-tiba raut mukanya berubah, deg jantungku berdegup keras. Dari sana tiba-tiba ada perasaan takut. Aduh kumaha kalo dianya marah dan berlaku yang mengerikan.
Ketika naik angkot, rela sedang membaca Al-Ma’tsurat (kebiasaan, soalnya kalo di rumah suka terkantuk kantuk …maluuu), sehingga mulutnya nampak komat-kamit (ii ngeri emang dukun). Tapi sejak kejadian itu, rela lafadzkan Al-Ma’tsurat dalam hati saja, khawatir kalo nampak komat-kamit ntar orang nyangkanya rela baca jimat-jimat dan penolak bala karena takut sama dia, ato dianya nyangka rela macem-macem.
Alhamdulillah, sampai rela turun di pertigaan supratman, semua baik-baik saja.

Kejadian ini membuat saya malu. Malu karena telah bersu’uzhon pada laki-laki itu. Padahal kalo diperhatikan, dia (mungkin) lebih baik dari seorang laki-laki perlente. Setidaknya dia meminta ijin untuk merokok, dia memperhitungkan bahwa ada hak orang lain yang terdzalimi jika dia merokok. Padahal banyak orang lain yang berpenampilan necis, jangankan untuk minta ijin, melihat kita batuk-batuk karena asap rokok, dianya lempeng saja. Apalagih kalo ingat fikiran rela yang nyangka dia bakalan menganiaya. Rasanya maluu banget, kayaknya ga mungkin dia berfikir buruk seperti itu, menganiaya-kan perbuatan yang membahayakan orang lain , wong mo merokok(melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hak orang lain) ajah minta ijin .
Malu yang kedua karena, rela ga pernah meminta hak, tapi menuntut orang lain sadar dengan hak yang harus saya terima. Spesifiknya dalam hal rokok. Kalo diangkot ato mobil umum lainnya, ga pernah meminta orang yang merokok untuk mematikan rokoknya (meminta hak saya). Yang ada malah saya batuk-batuk atau tutup hidung dan berharap yang merokok akan terusik, ngeh dan kemudian mematikan rokoknya. Teringat salah satu bagian dari buku Pagi ini Aku Cantik Sekali, mirip ceritanya, yaitu di sekitar rokok. Cuma bedanya beliau mengakhiri ceritanya dengan komitmen bahwa dia akan menuntut haknya -untuk bisa bebas bernafas dengan bebas tanpa asap rokok- dengan cara bilang ke orang yang merokok langsung. Sementara kalo saya, mmh mikir dulu..berani ga ya buat ngomong
Tampaknya cerita ini tak memberikan sebuah kesimpulan akhir yang membahagiakan, karena toh saya “Sang Tokoh” tidak lantas berubah dan mau menuntut haknya.
Tapi hikmah tettep ada, bahwa “Don’t judge the book by the cover-nya” teh bener…
Harus berusaha lebih keras lagih untuk menghilangkan prasangka-prasangka jelek dari dalam otak…
Sucikan hati dan fikiran lah intina mah!


Malam menegangkan -> Information Exchange Meeting 2005

tanda seru (!)

Mmh..
Rela dapet pelajaran berharga sore ini, bahwa YM itu sangat-sangat sensitif.
Rela memang punya hobi untuk menulis tanda seru (!) untuk sesuatu yang penting, atau kata yang nadanya aga beda, ga lempeng gitu! Untuk mengekspresikan rela yang heboh, kayaknya pas deh kalo pake tanda seru.
Kemudian sore ini rela memakai tanda seru untuk suatu kalimat, tidak bermaksud untuk marah. Tapi ternyata, karena sebuah tanda seru, saudariku terluka karenanya. Maaaph ya ukhty…
Dia merasa kalo rela marah karena dia ga jawab pertanyaan rela, padahal sebenarnya dia udah jawab. Tapi memang di YM relanya ga ada jawabannya, itu juga salah satu yang membuat YM sensitive, karena kadang-kadang ada error yang bikin salah faham.
Tapi subhanallah…Allah tidak akan membuat satu jengkal kejadianpun sia-sia. Pasti berjuta hikmah terkandung disana. Jadi setelah kejadian itu, rela diberitahu oleh saudariku , bahwa di “dunia maya”, tanda seru itu artinya marah. Dan beliau juga menulis , “bahwa di dunia ini (maya), emosi ga keliatan. Semuanya dibahasakan dalam bahasa tulisan”. Jadi memang kitanya harus hati-hati. Rela juga jadi tau, kalo ternyata ada ‘buku primbonnya’ “how to communicate in this sort of world”.
Tapi memang betul, kita harus hati-hati kalo lagih chatting, dulu juga pernah rela terlibat dalam satu pembicaraan dengan seorang teman, dan rela nebak kalo beliau marah. Trus dia bilang dengan ikon ketawa, “rela ko nuduh gitu seeh? Rela kan ga bisa liat wajah sayah gimana”.
Ya memang..apapun itu, sebenarnya kita harus hati-hati. Baik di dunia maya maupun nyata.
Untuk teman-temanku….
Maaphkan rela ya kalo ada salah-salah kata, ataupun perbuatan yang ga mengenakan dan bikin bete. InsyaAllah ga ada maksud seperti itu…
Maaphkan……



for my beloved sis...
luv U coz 4JJI n than's 4 everything

Friday, February 25, 2005

bingung

seminggu ini, ketika banyak hal yang harus kukerjakan, ide untuk menulis segudang...
tapi aku mencoba menahannya untuk tidak dituliskan, karena "ga enak'...
pekerjaan menumpuk ko ya malah nulis sesuatu yang ga ada hubungannya sama kerjaan...
tapi kini seteah semua selesai dan ingin kutuliskan sejuta ide itu, tiba-tiba blap!!!
ILANG!
bingung jadinya

Friday, February 18, 2005

sibuk #:-S

lagih dikejar dedline..padahal ide segudang..:(
mmh semoga ga hilang...
tunggu sampai 2 minggu mendatang...
mungkin postingan kan menjelang...
mengisi blogku yang kian lengang...
inipun curi-curi karena ku tak datang siang..
jadi bisa baca imel sambil duduk tenang...
sudah yah sayah mau..... (apa yah yang belakangnya ang?)
mau....berenang!!! :P
ga deng mau......berdendang!!!
gak juga :o
mau udahan ajah deh...

diantara kerjaan yang segudang!!!
hureee!!! ang lagih

Friday, February 11, 2005

My Parent

"La, abis ketemu sama orang tuamu kemaren, pantesan rela kayak gini...."
"Kenapa, manja yah?"...ucapku sambil malu-malu....
"Keliatan banget sayangnya sama rela"...
..tak kuasa air bening dari bola mataku ingin mengalir deras...
subhanallah sampai orang lain pun bisa melihatkasih sayang itu terpancar dari sikap kedua orang tuaku...
memang hal yang wajar dan fitrah jika kedua orang tua kita sayang sama kita...
tapi, kita anaknya kadang tidak menyadarinya dan menganggap semua hal yang terjadi antara kita dan kedua orang tua kita adalah hal yang biasa, hanya rutinitas sehari-hari...
Padahal sejuta rasa sayang telah mereka berikan, dari semenjak doa yang mereka ucapkan ketika meminta agar Allah mengamanahi mereka salah satu hambanya agar menjadi anaknya sampai dengan akhirnya Allah mengambilnya atau usia menjemput mereka

ingin kubuat puisi untuk mereka berdua, tapi...ga bakat deh kayaknya...

Mamah adalah panggilan rela buat ibu...
Dan Apa adalah panggilan untuk Bapak...

Mah, Pa... banyak banget sikap rela yang bikin mamah atau Apa kesel banget sama rela..
Rela juga suka gitu, suka "kesel" atau beda pendapat sama mamah dan apa...
walaupun sebenarnya ga pantas , kalo rela kesel ma mamah dan apa...
Tapi ya itulah, rela manusia biasa yang belum bisa mengontrol emosinya..
Apalagi kata teteh-teteh dan aa-ku kalo rela suka paling keukeuh ..:D

Bahkan sampe bikin heran kaka-kakaku...
"Enak ya rela bisa diskusi, kalo jaman kita dulu wuaahhh mana berani"
dan aku hanya bengong.....
" O..ya?"
mungkin itulah karunia dari Allah...
Ada semacam fitrah untuk memperlakukan setiap anak sesuai dengan karakternya masing-masing.
Metoda pendidikan dan penyikapan dari orang tuakupun berkembang seiring dari kedewasaan masing-masing dan perilaku setiap anak
Bukan mereka bermaksud membedakan.
Pernah suatu waktu aku bertanya tentang hal itu sama Mamah...
Dan jawabnya, bukan bermaksud berbeda, tapi Mamah bertindak sesuai pemahaman Mamah saat itu tentang karakter masing-masing...
Subhanallah..Allah telah "menggiring" dengan skenarioNya, untuk menciptakan pribadi-pribadi yang "khas"..
Disadari atau tidak...
Bahkan diantara diskusi yang kita lakukan, kita suka bersitegang karena beda pendapat ...
Serta banyak juga riak-riak gelombang kehidupan yang rela alami selama dalam "pengasuhanmu"
Tapi alhamdulillah dari semua "diskusi" kita, tak ada tindakan yang mendzalimi...
Dan Subhanallah, apapun yang anakmu ini lakukan kasih sayangmu tetap mengalir deras laksana air sungai

Bahwa banyak yang berbeda antara kita...
Dan banyak kekecawaan didalamnya...
Serta banyak kekurangan yang dimiliki,

Karena kita manusia biasa...
Karena Allah telah menciptakan setiap pribadi adalah uniq... tak ada yang sempurna

Mah, Pa....rela ga bisa bilang muluk muluk bahwa Mamah dan Apa adalah Orang Tua Yang Terbaik Sedunia...
Ataupun yang paling pengertian dan penyayang...
Serta berjuta kata manis untuk memuji dan menyanjungmu...

Karena semua puja dan puji itu hanyalah milik Rabb Yang Maha Sempurna
Tapi,
Kalian berdua adalah orang tua yang tepat yang telah Allah pilihkan buat Rela...
Yang membentuk diri rela seperti sekarang...
Membentuk pribadi...
Some how some way...
Terdapat sejuta hikmah dari Allah yang terkandung disana...
Tak bisa ku katakan bahwa kalian berdua Sempurna...
Karena kalian adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya..
Tapi, setiap apa yang Mamah dan Apa punyai, miliki dan lakukan telah Allah "set" sehingga bisa mengisi bagian di kehidupan ini...
Sehingga jika hidupku ini adalah potongan-potongan puzzle, maka kalian berdua telah mengisi dan memberi puzzle yang tepat untuk kehidupanku...


وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
[17:23] Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
[17:24] Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Ya Rabbi, ampunillah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
Pertemukanlah kami kembali di dalam Jannahmu yang suci...
Ikatankanlah ikatan cinta diantara Kami karenaMu...
Dan satukanlah hati-hati ini untuk senantiasa berjuang di jalanMu...
Ya Rabbi...
Apapun yang hamba berikan untuk mereka, tak kan bisa membalas apa yang telah mereka berikan untuk hamba...
Karena itu, hanya padaMu hamba memohon untuk membalas semua kebaikan dan jasa baik mereka berdua kepadaku...
Amiin Ya rabbal 'Alamin


Asyiah Azkariyah Fiisabilillah

Me (4:37:16 PM): ....ada alamat bloggku....http://asyiah-azkariyah-fiisabilillah.blogspot.com
My Friend (4:37:27 PM): waw
My Friend(4:37:31 PM): namanya berat banget
My Friend (4:37:37 PM): btw...artinya apa tuh?
Me(4:37:43 PM): ga mencerminkan ya...?
My Friend (4:37:50 PM): nama rela kah dalam bahasa arab ?
Me(4:38:41 PM): bukan..
My Friend (4:38:45 PM): lalu?
Me(4:39:02 PM): itu nama calon anak rela (kalo disetujui ama calon bapaknya itu juga...) :D
Me (4:39:09 PM): garing ya.. ?
My Friend (4:39:15 PM): ooooh
My Friend (4:39:27 PM): kalo cowo anaknya
My Friend (4:39:29 PM): ?
My Friend (4:39:34 PM): itu juga namanya?
My Friend (4:39:52 PM): artinya apa itu ?
Me (4:39:56 PM): ga dong..
Me (4:40:39 PM): mmh sebenernya rela baru nyadar kalo yang rela maksud cara penulisannya bukan gitu...
Me (4:40:44 PM): jadi harusnya...
Me (4:40:59 PM): asiah askariyah fii sabillah
My Friend (4:41:15 PM): artinya?
Me (4:41:50 PM): asiah kan nama istri fir'aun yang istiqamah dalam islam walaupun firaunnya kafir
Me (4:41:59 PM): jadi doanya biar seperti siti asiah...
Me (4:42:11 PM): askariyah itu tentara..(kalo ga salah)
Me (4:42:21 PM): fii sabilillah mmh di jalan allah...
My Friend (4:42:21 PM): ooo...bukan supaya dapet suami kaya...hehe ngga deng
Me (4:42:32 PM): jadi asiah tentara di jalan Allah
My Friend (4:42:33 PM): amin..amin...
Me (4:42:37 PM): :( X-(
My Friend (4:42:39 PM): kalo itu emang doanya
Me (4:42:47 PM): oia makasih..
My Friend (4:42:47 PM): mudah2an sesuai yang diharapkan
My Friend (4:42:49 PM): ibunya
Me (4:42:53 PM): amiin...
Me (4:42:55 PM): :D
Me (4:42:56 PM): :">
Me (4:43:18 PM): garing ya?
Me (4:43:20 PM): :">
My Friend (4:43:35 PM): naha garing..
My Friend (4:43:39 PM): ya ngga lah
Me(4:44:41 PM): karena blom tentu Allah akan mengamanahi rela putri...
Me (4:44:49 PM): putri maksudnya anak...

STOP!!!

(obrolan kecil di window YM...intermezo sedikit tentang alamat blogku..:D )

Tarbiyah menjadi Umahat

Masya Allah pagi ini aku lelah sekali...
Sebenarnya fisik ga terlalu capek, tapi rasanya lelah banget
Begini ceritanya...
Kemaren siang rela dapet amanah "besar" dari Eteh, kakaku yang paling gede. Yaitu untuk jagain dua orang anaknya, yang pertama umur tujuh tahun dan yang kedua umurnya dua tahun setengah. Gak lama seeh, cuma dari siang sampe besoknya, itupun sebenarnya gak full aku sendirian. Karena ba'da magrib mamah dan apa dateng.
Kuceritakan ya "kelelahanku"
Eteh sengaja pergi pas anak keduanya, Childa tidur, katanya seeh biar ga rewel dan ga terjadi "konflik". Sebenarnya seeh emang kedua anak itu lagih sakit, tapi ya karena memang ada kepentingan yang mendesak, jadi beliau tetap pergi dan mempercayakan kedua anaknya padaku :D. Sebelum pergi dia berpesan, " La kalo childa bangun, peluk ajah ntar tidur lagih ko' !" Oia, sip fikirku dalam hati. Gampang lah itumah, lagian rela kan udah deket banget sama mereka berdua. Akhirnya dengan nyantai aku pergi ke kamar mandi, soalnya udah waktu duhur, saatnya untuk shalat. Nah pas di kamar mandi, terdengar suara...apa ya? Oia childa nangis, wua Guawat neeh, akhirnya aku langsung masuk ke kamar dan meredakan tangis keponakanku dengan memeluknya dan menina bobokannya. Alhamdulillah dia ga merhatiin yang meluk siapa, jadinya dia bisa tidur kembali dengan nyenyak (mungkin), sampai akhirnya aku beranjak dari tempat tidur dan ternyata dia nangis lagih, kupeluk lagih dong. Kejadian itu berulang sampai tiga kali, sampai akhirnya aku tidak mau beranjak sebelum yakin kalo dia benar-benar pules dan akupun pules :P. Iyah, akhirnya rela ketiduran sampai akhirnya bangun, jam sudah menunjukan jam 1.30. Astagfirullah'al adzim..akhirnya aku segera shalat, tilawah dkk. Gak kerasa jam hampir menunjukan jam 3, rencanaku untuk menyetrika bajuku yang sudah segunung (serius, inimah bukan hiperbola tapi emang tinggi kayak gunung...:D) kubatalkan. Pikirku nanti sajah ketika mamah dan apa dateng, jadi bisa lebih tenang nyetrikanya. Kuisi waktu dengan membaca buku "Pagi ini Aku Cantik Sekali", subhanallah buku yang bagus. Tapi tak lama ada bunyi lagi, wuaaa ponakanku nangis lagih. Akhirnya kuberanjak ke kamar dan memeluknya. Singkat cerita, akhirnya dia memutuskan untuk bangun, fuihh...lega dia bangun dengan tenang tanpa nangis, walaupun tau mamahnya ga ada.
Alhamdulillah satu terlewati, kuajak dia makan sop, mau dia. Tak lama kakanya datang, setelah sebelumnya dia main bareng temennya. "Anti, -panggilan keponakanku padaku- udah adzan ashar belom?", subhanallah dia pulang untuk shalat ashar. Karena mamahnya memang berpesan, kalo udah waktunya shalat pulang dulu! Tenang. Tapi gak lama, kesabaranku diuji dengan gaya makan Childa yang lamaaa banget. Gak dikunyah-kunyah. Jadilah waktu satu jam kuhabiskan untuk menyuapinya. Nah kalo kakanya, jagoan dia, antinya ajah kalah. Dia goreng telor sendiri untuk teman makannya. Wuaaa...jadi terharu. Bukan (hanya) karena masakanku ga enak, tapi memang dia hoby goreng-goren, padahal anak cowok gitu lho!
Setelah makan, akhirnya mereka berdua menonton tivi dan aku meneruskan membaca buku. Tapi, ga bisa karena gak lama kemudian mereka bertengkar tentang chanel tivi yang akan ditonton. Aduuu...aku harus sabar dan adil, gimana neeh. Akhirnya kucoba dengan strategi, GANTIAN. Jadi, setengah jam ewang. Setiap selese satu acara, maka hak untuk menentukan acara selanjutnya adalah hak yang lainnya. Tenangkah setelah ini? Ternyata tidak sodara-sodara. Mereka tetap bertengkar, akhirnya kuhabiskan waktu sampai mamah dan apaku datang untuk membaca buku dan melerai mereka. Capeeeee...
Ba'da magrib, perutku keroncongan sehingga tilawahkupun hanya sebentar. Gak kuat bo'! Dengan sedikit "basa-basi", kutawari lagih childa untuk makan. Dan ternyata dia mau. Aduu..aku harus menahan laparku dan menyuapinya untuk waktu yang tidak kalah lama dengan tadi siang. Laper? Iya dong! Tapi lega, karena dia mau makan dan alhamdulillah makannya banyak. Gak tega melihat wajahku yang kuyu dan tampang laper, mamahku menawarkan untuk menggantikan posisiku nyuapin Childa. Tapi, Childa ga mau, jadi aku harus bersabar lagih untuk tetap bersemangat menyuapinya denga perut "berbunyi". AllahuAkbar Ayo semangat...
Akhirnya waktu untuk tidur. Aku udah curiga neeh, jangan-jangan Childa blom ngantuk -walaupun sudah minum obat batuk- soalnya tadi siang bobonya lama, hampr 4 jam. Sementara mataku lelah sekali. Oia, rencana menyetrikapun, GAGAL! Karena, ya itu lelaah bangeeeet. Dan kecurigaanku itu sedikit benar, karena Childa emang ga mau langsung tidur, padahal mataku udah satu watt, ga kuattt ! Childanya tetep mau tidur bareng aku. Mamah udah kasian banget deh ngeliat x-presi mukaku yang udah layu. Sampai akhirnya aku tertidur,sambil ga nyadar, waktu itu Childa sudah tidur atau belum. Tapi, tidurkupun tak pulas, karena sebentar-bentar Childa bangun dan aku harus menenangkan dan memeluknya. Subhanallah...
Pagi menjelang, aku bangun ketika adzan berbunyi. Hah?? Protes dong sama mamah yang udah bangun duluan. Mamah bilang ga tega bangunin aku, soalnya kayaknya lelah banget lagian pagi itu aku harus menyetrika bajuku yang segunung itu.
Singkat cerita, pagi itu aku sibuk sekali mempersiapkan Nanda yang akan berangkat sekolah dan juga mengurusi Childa, yang MasyaAllah, panasnya meninggi lagih dan makin rewel, bahkan sampe muntah di bajuku. Aku kelimpungan, padahal tugas rutinku mencuci piring udah ditangani mamah dan rencana menyetrika kubatalkan (lagi).
Alhamdulillah, walaupun "sedikit" berantakan, semuanya bisa selesai, aku pergi kerja, nanda sekolah, mamah, apa dan Childa ke Margahayu, "mandorin" rumah yang lagih di renovasi.
Nah sampailah aku disini dengan badan lelaaah...
Subhanallah para umahat itu ya?
Cuma segitu ajah, aku kepayahan. Bukan fisik seeh, tapi lebih ke batin. Mencoba menjaga emosi, bersabar dan berbuat adil terhadap kedua keponakanku. Kemudian memikirkan makannya, bajunya dan semuanya. Segitu teh belum dengan pekerjaan-pekerjaan domestik yang wajib (karena ditinggalkan oleh sayahnya dan juga sudah dibantuin mamah). Apalagih kalo jadi umahat beneran. Ngasuh anak, ngurus suami, beresin rumah, kerja (kalo yang kerja) ditambah amanah da'wah dan program peningkatan "tsaqafiyah" pribadi serta penjagaan ruhiyah dan jasadiyah. Subhanallah, Allahu Akbar. Memang ladang jihad yang sangat besar. Bukan pekerjaan sepele, sama sekali bukan.
Makanya untuk menikah butuh kesiapan ruhiyah, ma'liyah, jasadiyah...sama apalagih yah? lupa euy!!! Oia fikriyah!
Padahal kita teh udah di siapkan selama usia "tarbiyah' kita. Apalagih yang blom ya? Yang hanya mengandalkan "Cinta" sajah tanpa ilmu yang jelas. Padahal punya cita-cita untuk "melahirkan mujahid" lulusan "madrasah da'wah". Wuaa gak cukup hanya dengan "Cinta", kecuali "Cinta Allah"
Fisik Qt? bukannya Qt sering aksi, rihlah dan lainnya? Ditambah pengalaman Qt yang notabene "aktifis"? Tapi ko beda ya capenya? Subhanallah...jadi makin kagum ma ummahat.
Subhanallah, Yang Menciptakan wanita (ibu) dengan "keperkasaan" dan kelembutannya sekaligus. Sehingga bisa menjadi tiang yang kokoh, penyangga untuk sebuah keluarga, namun bisa juga sangat lembut bagaikan kapas untuk menenangkan keluarganya.

Tersindir oleh ucapan Alm Ustadz Madani, yang diambil dari buku Pagi ini Aku Cantik Sekali,

Wahai para akhwat beramal dan beramallah. Akan tiba suatu masa datang seorang pangeran menjemputmu. Jika engkau masih lajang beramallah 200% dari kemampuanmu. Agar nanti saatnya engkau telah menikah dan sebagian dirimu harus memenuhi aktifitas domestik masih tersisa 100% dari kapasitasmu untuk beramal di ladang publik.

Astagfirullah...
Sudah berapa persen amalku dari kemampuanku saat ini, ketika lajang...
Mampukah aku mengemban amanah menjadi umahat yang tetap bisa berkiprah dan berda'wah untuk umat?
Sedangkan "menggantikan" posisi Eteh dalam satu hari sajah aku kepayahan...
Rabbi..kuatkan aku untuk selalu berjalan di jalanmu, apapun posisi yang kusandang nanti....

Bandung...1 Muharam 1426 Hiriyah...tarbiyah yang sangat berharga, ketika kupendam keinginan untuk menghadiri daurah adik-adiku..:D

Pagi ini Aku Cantik Sekali

Mmh ..ada yang 'ngeh' dengan kata-kata itu?
Ya itu adalah salah satu judul buku yang saya suka,
Kenapa?

Karena langsung menyindir tepat ke kedalaman hati dan jiwa,
Cerita tentang sebuah pengalaman dan hikmah hidup sehari-hari,
Bukan sebuah buku berisi kumpulan teori-teori,
Memang penting juga buku teori itu, karena disanalah landasan kita beramal,
Tapi entahlah, aku lebih menyukai buku semacam Pagi Ini Aku Cantik Sekali, Bukan negeri Dongeng, Diary Kehidupan, dan masih banyak lagi yang lainnya,
Karena didalamnya aku bisa belajar banyak, bisa bercermin dan kembali menyadarkan hatiku tentang masih banyaknya kotoran-kotoran dalam segumpal daging ini,
Tentang betapa lambatnya aku ini, sementara di dunia luar para mujahid dan mujahidah da'wah telah berlari bahkan melesat,
Menyadarkan hati dan jiwa yang mulai pesakitan,
Kembali menyusun dan menyusun bongkahan hati dan jiwa yang mulai terserak tak beraturan,
Dan dengan membaca cerita-ceritamu wahai sahabat,
Keringnya sungai ketulusan hatipun mulai berkurang,
Terbasahi oleh embun-embun hikmah yang kau tuliskan,
That's why I like to read and visiting your blog, friends

Thursday, February 03, 2005

legaa..rasanya

status message : legaa rasanya, ...Dia Maha mendengar apapun keluhan Qt

tiba..tiba...window IM ku terbuka...


(8:23:14 AM): :ada apa?
(8:23:20 AM): kok tiba2 lega
(8:23:44 AM): jawab : mau tau aja lu!!!
e_klas28 (8:25:06 AM): gpp..
e_klas28 (8:25:11 AM): mau tau knapa?

kutuliskan hadist ini di window YM ku
Rasulullah bersabda,"Siapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah akan marah padanya. Maka hendaknya, seorang diantara kalian mengadukan segala urusannya kepada Rabbnya, meskipun hanya tali sendal yang putus"(HR.Tirmidzi)


sudah sering kumendengar tausyiah ...."Mengadulah pada Allah"

Tapi dasar bandel, ga pernah bisa..mungkin merasa lucu
Sampai akhirnya kutemukan sendiri hadist itu
Baru aku mau...
Bandel ya?

ya kadang-kadang Qt merasa kesepian dan tak ada teman untuk curhat,
tak ada teman yang membelai lembut dan menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja,
dan merasa dunia ini cukup sempit untuk kita hirup bersama dengan penduduk dunia yang lain,
padahal, ada Dzat Yang Maha Mendengar segala keluh kesah kita

mungkin kita sering merasa bodoh kita berbicara tak ada seonggok fisik yang mendengarkan,
atau merasa kagok karena, lha yah inimah ngomong sendiri...gimana mo lega

Allahlah Dzat Yang Membolak-balikkan hati kita
Dzat yang menjadikan hati kita gundah, resah gelisah dan bahkan bahagia
jadi efek lega setelah kita curhat itu ya semata-mata seizin Allah
Karena tak ada sesuatupun yang terjadi di muka bumi ini kecuali sepengetahuanNya
Jadi bukan hal yang mustahil setelah kita "curhat" padaNya maka Allah akan memberikan kelegaan yang jauh lebih lega dari yang pernah kita bayangkan
Walaupun tak ada suara yang menjawab tanya kita
Tak ada tangan lembut yang membelai kita
Tak ada mata teduh yang dengan sabar memperhatikan ucap kita
Tapi dengan seijinNya kita akan mendapatkan yang lebih dari itu
Hati kita pun akan yakin, semua gundah gulana yang tertumpah, semua duka yang tertuang dan semua aib kita yang memalukan, tersimpan rapih tanpa harus khawatir akan mencoreng muka kita

Jadi mengapa kita harus mencari sejuta teman curhat
Jika ada Allah Yang akan senantiasa mendengar "cerita" kita
Mengabulkan doa kita
Dan mendekat dengan jauh lebih dekat ketika kita coba merangkak menujuNya..
Allahu'alam bi shawab...

Mungkin hati ini yang terlalu kotor dan hina sehingga merangkakpun tak bisa untuk menemuinya
Atau mungkin terlalu angkuh sehingga tak percaya jika Dia Maha Mendengar

Rabbana bukakan hati kami hingga kami mampu untuk bercerita padamMu
Agar tenang kembali hati ini
Agar jauh kembali galau ini
Karena engkaulah yang Maha Membolak-balikan hati

(kepada seorang teman, makasih sudah bertanya...jadi ter-idei untuk menuliskan dan berbagi..percakapan kecil tapi berarti sangat banyak bagi jiwa ini...semoga diskusi kita tak terhenti sampai situ)



Pendaki Gunung

Seorang pendaki gunung sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Dipunggungnya, ada ransel dan beragam carabiner (pengait). Tak lupatali-temali tersusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali inicukup berat. Jadi, persiapannya harus lebih lengkap.Kini, di hadapan pendaki itu menjulang sebuah gunung yang tinggi.Puncaknya tak terlihat. Tertutup salju yang putih. Awan yang berarak disekitarnya, membuat tak seorang pun tahu apa yang ter¬sembunyi di sana.Mulailah pendaki itu melangkah, menapaki jalann-jalan bersalju yangterbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang disandangnya menancapsetiap kali ia mengayunkan langkah.Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yangterjal. Tak mungkin baginva untuk terus melangkah.Dipersiapkannya tali-temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalucuram. la harus mendaki dengan tali-temali itu. Setelahbeberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh datang dari atas.Astaga, ada badaii salju datang tanpa diundang!Longsoran salju meluncur deras. Menimpa tubuh sang pendaki.Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru anginyang membuat tubuhnya terhempas ke arah dinding.Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglahtali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yangcuram itu. Semua perlengkapannya hilang. Hanya tersisa sebilah pisau dipinggangnya. Sang pendaki itu tergantung terbalik di dinding yang terjalitu.Pandangannya kabur. Semua tampak memutih. la tak tahu di mana berada. Sangpendaki cemas. la berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agardiselamatkan dari bencana. Mulutnya terus bergumam, berharap adapertolongan Tuhan datang padanya.Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, terdengar suaradari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu!Potong tali itu!" Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendakibingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara iniadalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yangtelah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal?Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu?Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia ragu untuk mengambilkeputusan. Lama. la tak mengambil keputusan apa-apa....Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuhtergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu beku. Tampak nyaia meninggal karena kedinginan. Sementara, batas tubuh itu dengan tanahhanya berjarak 1 meter saja!Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu karenatak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakanpendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya.Pendaki itu tentu akan selamat dengan membiarkan dirinya jatuh ketanah yang hanya beriarak 1 meter. la tentu tak harus mati kedinginan.Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Allah tampak tak melindungihamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekalibeban, masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalankehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai salju yangterus menghantam tubuuh kita. Mengapa tak disediakan saja jalan lurustanpa perlu menanjak agar kita terbebas dari semua halangan itu? Namun,Teman, cobaan yang diberikan Allah buat kita adalah latihan. Hanya ujian.Kita adalah layaknya besi-besi yang ditempa. Kita adalah sepertipisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di semua ujian dan latihanitu, tersimpan petunjuk. Ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.Ya, asal kita percaya.Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga mampu membuat kitamemutuskan "memotong tali pengait" saat tergantung terbalik?Seberapa besar rasa percaya kita kepada Allah hingga kita maumenyerahkan semua yang ada pada diri kita kepada-Nya?Teman, percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Allah dalam setiaplangkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasapercaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjukitu akan datang dengan tanpa disangka.--

Kekuatan CintaIrfan Toni Herlambang

(makasih rid atas e-mail ini, ma rela disimpan di blog yah biar lebih banyak orang yang bisa membaca dan ngambil hikmahnya walopun belum beli bukunya :D)

Teruntuk Sahabat

bilangan tahun telah menunjukan angka 2005
satu-persatu sahabat "pergi"...
satu persatu mereka "melangkah" menuju jalannya sendiri..
sahabatku, dimanapun engkau berada doaku akan bersamamu...
sahabatku, apapun jalan yang akan kau lalui, kuharapkan ikatan ini tak akan putus...
dan tali yang menyatukan kita akan terus menyertaimu..
menenangkanmu saat kau gundah...
menyertaimu saat kau sepi dan menghiburmu saat kau sedih...
walaupun pertemuan kita hanya "sebatas" doa
namun dengan cintaNya, kuyakin doa kita akan menembus tingginya langit dan menguak lebatnya rimba
saat ini, jujur hatiku merasa was-was
karena mungkin saat-saat ini adalah saat yang menentukan untukmu
aku khawatir,sangat khawatir
bukan karena tak percaya padamu, tapi...
entahlah aku tak bisa menjelaskannya
mungkin rasa sayang itu yang terlalu besar, sehingga yah....
tapi kupercaya....Allah akan senantiasa menjagamu...
"kutitipkan" dirimu pada Penciptamu...
dan semoga perahu manapun yang kau pilih untuk melanjutkan hidupmu, Allah akan mempertemukan kita kembali di pelabuhan yang sama..
amiin

Monday, January 24, 2005

Untuk saudaraku Mujahid da'wah....(2)

mmh....
mencoba untuk melihat lebih bijak...
setelah baca dari beberapa buku, memang pilihanmu tak salah untuk melihat keindahan dunia sebagai salah-satu pertimbangan untuk pendampingmu nanti...
mungkin itu bisa menenangkan gundahmu ketika selesai berda'wah...
membahagiakanmu ketika sejuta masalah bertumpuk...
dan menjernihkan hatimu ketika rajutan-rajutan konspirasi datang menghadang..
semoga semuanya itu memang bisa lebih memacukan geliat da'wah mu dan kontribusimu bagi umat...
akhi ... apapun itu, kami tak bisa men-judge mu dari luar...
semua perhitungan adalah antara dirimu dan Rabbmu
kami hanya berharap dan berdoa semoga Allah memasangkan kami dengan mujahid da'wah yang akan bersama-sama tumbuh dan berjuang dalam da'wah ...
dan semoga bukan "mujahid da'wah" yang terpesona oleh fisik yang Allah ciptakan untuk kami...
Allahu'alam bi shawab...

(lanjutan dari yang dulu...ceritanya mencoba lebih arif dalam memandang...dan ga men-judge...tapi walo mencoba lebih "arif", kalo boleh jujur rela sndiri ga berharap, bila saatnya tiba, rela mendapatkan yang ngeliat orang fisik only :)>- ...amiin...)